Custom Search
Hot News
Monday, April 11, 2016

AHOK DAN REN


Opini:
Oleh Eugen Sardono, SMM
Studi Filsafat di STF Widya Sasana, Malang

Akhir-akhir ini media elektronik dan cetak selalu berkutat tentang seorang pemimpin. Hal ini mudah dipastikan karena pemimpin adalah tonggak perubahan. Tokoh pemimpin yang selalu diliput adalah Ahok. Ahok memastikan penertiban Kalijodo dilakukan tahun 2016 ini. Sosialisasi mulai dilakukan dengan menempelkan selebaran-selebaran surat peringatan penertiban Kalijodo dalam waktu dekat. Kalijodo bakal dikembalikan fungsinya sebagai jalur hijau dan dijadikan Taman Pisang. Ketua MPR, Zukifli Hasan mendukung langkah Gubernur. Ahok pun tampil dengan membawa cetusan baru yang bisa menjadi tonggak perubahan. Tahun ini, Jakarta jarang diliputi berita banji. Bukankah ini sebuah keberhasilan Ahok? 
 
Kehadiran Ahok dalam panggung kepemimpinan Indonesia sebagai ‘nabi’ yang membuka perubahan. Dalam ajaran Konfusius dikenal kata Ren (Rasa kemanusiaan). Ren berasal dari kata ren artinya manusia dan er artinya dua. Maka, konsep ren berarti manusia dengan kualitas moral dalam intraksi dengan yang lain. Kalau hanya seseorang maka disebuat Tian (manusia). Ren mengandaikan adanya sebuah “perjumpaan”, “pertemuan”, dan “pertentangan” dalam relasi. Namun, Ren membutuhkan rasa kemanusiaan.
 
Usaha Mencapai Ren
 
Ren sesungguhnya tidak datang dari dunia luar, tetapi datang dari dalam diri manusia. Ren in se adalah perjuangan untuk mencapai tindakan yang bukan saja mencari keuntungan, tetapi mencari kebenaran. Atau dalam Filsafat Cina dikenal istilah Dao (kebenaran, etika, dan moral). 
 
Sebelum mencapai Ren, orang harus menjadi pribadi yang unggul (Junzi). Manusia unggul menguasai nilai-nilai moral dan etika, terpelajar dan memiliki bela rasa terhadap sesama. Orang tampil sesuai dengan kualitas apa yang dimilikinya. Seorang pemimpin melakukan segala sesuatu sesuai namanya. Kalau ia presiden, maka bertindaklah sebagai presiden. Kalau Gubernur, bertindaklah selayaknya Gubernur. Kalau ia wali kota, bersikaplah seperti wali kota. Rakyat pun demikian, bertindaklah sebagai rakyat. Maka, Kualitas ren, adalah melakukan segala sesuatu sesuai dengan tugas yang diembankan kepadanya. 
 
Nama tidak hanya mengandung makna (deskriptif), melainkan juga kewajiban atau tanggungjawab (Preskriptif). Orang tampil sesuai dengan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Kehadirannya sungguh mampu menggubah dan menggerakkan orang lain. Nilai dasarnya adalah Dao (kebenaran dan nilai moral). Dao menjadi sebuah “alasan” kenapa orang harus menunjukkan rasa kemanusiaan.

Ahok Memiliki Ren
 
Ren adalah etika dasar etika Konfusius dalam pembentukkan manusia. Ketika membandingkan dengan model kepemimpinan Ahok di panggung sejarah Indonesia, sungguh menjadi seorang pemimpin yang memiliki rasa kemanusiaan. Salah satu kunci Ren berpusat pada ketulusan menolong dan membangun orang lain, tidak memikirkan kepentingan diri sendiri. Berani melakukan gerakkan ke luar. Keluar dari kenyamanan diri. Keluar dari keinginan merasa nyaman. Itulah hal praktis yang Ahok lakukan. 
 
Kualitas ren patut dikenakan kepada Ahok. Ahok sebagai seorang pemimpin yang menjawab harapan Konfusius. Ketegasan Ahok dalam mencetuskan perubahan layak mendapat julukan seorang yang ‘mengasihi kemanusiaan’. Shu (cinta) adalah tindakan mengaktualisasikan ren. Ahok lantas kendatipun dengan perkataan dan tindakan yang keras, ia tetap melakukan dengan cinta. 
 
Ahok sendiri sungguh melakukan semuanya dengan cinta. Kekuatan cinta mampu mengalahkan rasa egois dan ketakutan yang datang dari luar. Ancaman dari luar tidak melunturkan semangatnya memperjuangkan rasa kemanusiaan. Ini menjadi catatan penting bagi para pemimpin yang lain.

Ahok Menjadi Model Kepemimpinan
 
Kinerja Ahok seyogianya menjadi cetak biru bagi para pemimpin di Indonesia. Ahok memiliki ketaatan, namun bukan ketaatan buta yang melumpuhkan rasa kemanusiaan terhadap rakyat. Indonesia masih absen dengan pemimpin seperti ini. Indonesia masih membutuhkan lima atau enam orang seperti Ahok. 
 
Kendatipun Ahok melanjuti kepemimpinan Jokowi, namun ia tampil gemilang dengan kualitas kepribadian yang matang, mampu mementaskan perubahan di berbagai sektor. Model Shu (cinta) menjadi model kepemimpinannya. Shu mengandung nuansa larangan, jangan melakukan sesuatu apa yang tidak ingin dilakukan orang lain kepada kita. 
 
Penolakkan bukan berarti melumpuhkan nilai Shu. Ahok kadang mendapat banyak julukkan. Ia bisa dijuluki orang gila, orang tolol, dan orang keras kepala. Baginya, itu adalah penilaian yang menjadikan dia berjalan mengejar ren. Perjuangan kebenaran bagi ahok adalah perjuangan melawan orang yang loba. Perjuangan melawan orang yang mencari Li (keuntungan). Nilai Ren luntur karena orang mencari keuntungan. Segala sesuatu dilakukan dengan kalukulasi untung-rugi, dapat uang atau tidak, dapat diskon atau tidak. Pertanyaan selalu muncul dari pemimpin yang mencari li: apakah saya meraup keuntungan? Itu semua bertentangan dengan Ren. 
 
Kiranya semangat Ahok bisa menggerakkan para pemimpin yang lain. Pemimpin yang tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, tetapi pemimpin yang menjawab persoalan rakyat dengan bertindak. Itulah Ahok.
Item Reviewed: AHOK DAN REN Rating: 5 Reviewed By: Trias Politika