Oleh: Yohanes Hegon Kedati
Jakarta, 17/11/2015
Menurut Aristoteles, kebahagiaan merupakan tujuan terakhir dari aktivitas manusiawi dan merupakan sesuatu yang mencukupi dirinya sendiri. “Happiness, then, is something final [teleion] and self-sufficient [autarkes], and is the of action” .
Untuk mendapatkan sesuatu yang paling baik dan paling luhur dalam hidup ini, kita justru harus berusaha, mendayagunakan seluruh potensi yang telah disediakan oleh kodrat manusiawi kita. "To entrust to chance what is greatest and most noble would be a very defective arrangement" . Kebahagiaan diperoleh melalui aktivitas jiwa yang sesuai dengan keutamaan. Hal-hal lain (kebaikan/harta lahiriah, nasib baik) hanya pra-kondisi dari kebahagiaan dan hal-hal lain lagi merupakan sarana yang diperlukan untuk mencapai bahagia. Namun, pada dasarnya kebahagiaan tercapai melalui aktivitas berkeutamaan. Jadi kebahagiaan akan terwujud manakala manusia hidup aktif sesuai dengan keutamaan-keutamaan jiwanya. Kebahagiaan merupakan sebuah disposisi batin.
Kebahagiaan bagi Aristoteles merupakan sesuatu yang sifatnya permanen atau stabil, tidak mudah berubah, juga kalaupun nasib orang berputar bagaikan roda, sebab kebahagiaan tergantung pada keutamaan dan keutamaan merupakan sesuatu yang sifatnya stabil. Keutamaan merupakan disposisi jiwa untuk melakukan apa yang baik dan luhur, yang mana sudah mendarah daging dalam diri seseorang. Bila keutamaan itu merupakan sesuatu yang stabil, demikian pula kebahagiaan yang merupakan aktivitas sesuai dengan keutamaan.
Keutamaan manusia, bukan keutamaan tubuhnya melainkan keutamaan jiwanya, sebab kebahagiaan merupakan aktivitas atau aktualisasi jiwa. Menurut Aristoteles, Ada dua keutamaan yaitu :
1) Keutamaan moral (ēthikē aretē; moral virtues), yang merupakan keutamaan bagian jiwa irrasional yang mampu mendengarkan prinsip-pinsip rasional, seperti misalnya keugaharian, pengendalian diri. Keutamaan moral adalah keutamaan jiwa desideratif yang memang tidak dikatakan bijak atau tidak bijak, tetapi terkendali atau tak terkendali (temperate or not temperate). Maka sering dikatakan keutamaan moral ini merupakan keutamaan karakter (Latin: mores = kebiasaan; sebab
2) Keutamaan intelektual (dianoētikē aretē; intellectual virtues), yang merupakan keutamaan bagian jiwa rasional, seperti kebijaksanaan teoretis (sophia) dan kebijaksanaan praktis (phronesis). Untuk bisa memiliki keutamaan diperlukan agar:
*) Manusia tersebut memiliki pengetahuan,
*) Manusia harus memilih tindakan dan memilih tindakan itu demi tindakan itu sendiri,
*) Tindakan tersebut mesti dilambari oleh suatu karakter yang kokoh dan stabil .
Aristoteles mengatakan bahwa keutamaan intelektual sangat ditentukan oleh bakat alam dan berkembang melalui pengajaran (ek didaskalias). Oleh karena itu, untuk mengembangkan keutamaan intelektual diperlukan pengalaman dan waktu yang tidak pendek. keutamaan moral tumbuh dari pembiasaan dan pelatihan (habituation) .
Sebagai contoh, seseorang bisa menjadi orang jujur dengan terbiasa melakukan tindakan penuh kejujuran, ugahari dengan melakukan tindakan ugahari, berani dengan melakukan tindakan yang menuntuk keberanian, dsb .
Sebagaimana keutamaan dibentuk oleh karena kebiasaan, demikian pula sifat buruk (vice) dibentuk oleh karena kebiasaan. Maka, untuk membentuk dan mengembangkan keutamaan karakter diperlukan pendidikan sejak dini. Aristoteles rupanya sangat menekankan pembetukan karakter sejak masa kecil, karena hal ini akan membuat perbedaan yang besar dalam diri seseorang . Pendidikan memegang peranan penting dalam usaha pencapaian membentuk manusia-manusia yang berkeutamaan. Pendidikan adalah sebuah proses pembentukan diri dalam kaitan dengan karakter dan intelektualitas seorang manusia.
Red/Gardantt

.png)