Oleh: Yohanes Hegon Kedati
Jakarta, 17/11/2015
Kemiskinan sebagai sebuah gejala sosial yang kita temukan di kota-kota besar seperti Jakarta. Masalah kemiskinan ini juga berkaitan dengan keadaan sosial dan budaya. Di kota Jakarta ini, kita dapat mengidentifikasi kelompok-kelompok yang simbol kemiskinan di kota-kota besar seperti pengemis, pengamen, tukang asongan, pemulung. Kelompok ini adalah golongan miskin turut membuat atribut-atribut kemiskinan menjadi relatif dan menjadikan atribut-atribut tersebut sebagai medium untuk memproduksi taktik-taktik untuk mempertahankan hidup. Berdasarkan beberapa atribut kemiskinan, manusia gerobak secara objektif dapat dikatakan sebagai golongan miskin. Namun, atribut-atribut kemiskinan yang melekat pada mereka tidak secara serta-merta bisa disimpulkan dengan mudah. Dalam beberapa kasus, atribut-atribut kemiskinan tersebut menjadi sangat subjektif tergantung dari pemaknaan dari kelompok-kelompok itu sendiri.
Kemiskinan perkotaan di Indonesia–khususnya Jakarta–tidak dapat ditanggapi semata-mata dengan konsep masyarakat dan kebudayaan distinktif, sebagaimana dianut oleh paradigma struktural yang memandang orang miskin sebagai kelompok yang khas dengan batas-batas tegas dan berbeda dengan golongan lain yang tidak miskin. Pada kenyataannya, atribut-atribut kemiskinan senantiasa bergerak dinamis, direproduksi berdasarkan konteks dan merupakan bagian dari taktik-taktik golongan miskin dalam menghadapi perubahan situasi sosial kota dengan tujuan mempertahankan kehidupan.
Dengan demikian, mengukur kemiskinan tidak bisa lagi dilakukan dalam rentang waktu yang relatif lama karena golongan miskin senantiasa bergerak sesuai konteks yang mereka hadapi.
Integrasi sosial golongan miskin yang terwujud akibat paradoks-paradoks status sosial dan ekonomi mengakibatkan semakin sukarnya membangun program-program penanggulangan kemiskinan khususnya di perkotaan Indonesia. Selain batas-batas yang kabur antara golongan miskin dan golongan tidak miskin, populasi orang miskin di perkotaan juga sangat besar dan banyak terdapat variasi di dalamnya.
Oleh karenanya, orang miskin harus dilihat sebagai kelompok sosial yang perlu diberdayakan dan difasilitasi selayaknya ditinjau kembali. Suara golongan miskin seyogianya tidak lagi hanya dimaknai sebagai kalimat yang keluar dari mulut mereka saja, tetapi juga dimaknai secara lebih luas sebagai praktik keseharian, simbol, dan juga kalimat golongan miskin yang mengekspresikan kehidupan mereka. Hanya dengan cara mendalami suara-suara tersebut, posisi golongan miskin sebagai subjek kemungkinan besar akan dapat diwujudkan.
Salah satu kelompok yang dapat diintesikasikan sebagai kelompok makin adalah pemulung. Dalam penelitiannya, Abdul Ghofur menyebut kelompok ini sebagai manusia gerobak. Menurut Abdul Ghofur dalam penelitiannya, manusia gerobak dihadapkan pada berbagai persoalan, baik persoalan pemenuhan kebutuhan hidup, persoalan tempat tinggal, maupun persoalan terkait upaya melakukan dan mengembangkan usaha untuk mempertahankan hidup di kota.
Menyadari kenyataan yang ada, yaitu bahwa tidak ada yang dapat menjamin kelangsungan hidup mereka kecuali mereka sendiri, manusia gerobak mulai menyusun dan mengembangkan taktik dengan membangun hubungan-hubungan dengan pihak lain. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan adalah jaringan yang bersifat informal. Hubungan sosial tersebut diperlukan agar kepentingan kepentingan mereka dapat terpenuhi dan mereka dapat memperoleh sumber daya sosial-ekonomi dan mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi di perkotaan.
Red/Gardantt

.png)