Custom Search
Hot News
Monday, November 16, 2015

Kemerdekaan Sebagai Visi Pendidikan


Oleh: Yohanes Hegon Kelen Kedati
Jakarta, 17 November 2015

Kesadaran akan pentingnya sebuah visi pendidikan sebagai usaha mencapai kemerdekaan telah mendasari Ki Hajar Dewantara dalam merumuskan cita-cita pendidikanya. Lewat sistem pendidikannya yang berbasiskan budaya Indonesia dan tiga semboyan pendidikannya—Ingarsa Sung Tulado (berdiri di depan memberikan keteladanan), Ingmadya Mangun Karsa (berada di tengah member motivasi), dan Tut Wuri Handayani (berdiri di belakang memberi kesempatan)—Ki Hajar Dewantara merumuskan pendidikan untuk pencapaian kemerdekaan. N. Driyarkara mengatakan bahwa kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang masih harus dimerdekakan. Pertanyaan akhirnya muncul di benak kita, “bukankah kita sudah merdeka, apalagi yang harus dimerdekakan?” N. Driyarkara menegaskan bahwa kemerdekaan kita adalah sebuah kebebasan untuk menentukan diri, mengambil keputusan untuk diri kita sendiri tanpa harus terikat pada nafsu-nafsu jasmaniah kita dan egoisme diri. Kemerdekaan adalah milik semua manusia. Kemerdekaan juga tidak lepas dari kodrat manusia yang berhubungan dengan hal-hal yang jasmani dan hal-hal yang rohani.

Kemerdekaan manusia tersebut juga tidak dapat diperoleh tanpa melalui pendidikan. Pendidikan memampukan kita tahu, mengerti dan mengambil pilihan dan langkah yang tepat. Ki Hajar Dewantara membedakan pengajaran dan pendidikan. Apabila tujuan pengajaran adalah men-tranfer ilmu pengetahuan agar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan, tidaklah demikian dengan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia, memerdekakan pikiran, batin dan tindakan. Pengajaran hanya salah satu bentuk atau cara untuk mendidik. Beliau merumuskan sistem among sebagai metode belajar ajar. Dalam sistem ini, guru bukan seorang abdi yang mengawasi anak didiknya lalu menghukumnya bila berbuat kesalahan. Bagi Beliau, guru haruslah menjadi mentor, seorang pamong, yang tugasnya adalah membantu anak didiknya menemukan dan mengembangkan kemampuan dan bakat yang dimiliki anak didiknya.

Untuk itu, guru atau pamong dibekali dengan metode kepemimpinan yang juga sekaligus semboyan yaitu Ingarsa Sung Tulado (berdiri di depan memberikan keteladanan), Ingmadya Mangun Karsa (berada di tengah member motivasi), dan Tut Wuri Handayani (berdiri di belakang memberi kesempatan). Lebih lanjut, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa anak didik tidak boleh dibentak atau dipukul. Anak didik harus dihormati kemerdekaannya karena beliau yakin setiap anak punya kemampuannya sendiri tinggal guru membantu anak didiknya menemukan, mengembangkan dan melahirkan pengetahuan dari anak didiknya. Dalam sistem among ini, ada juga “Konsep Tringa” yang terdiri dari ngerti (mengetahui), ngrasa (memahami) dan nglakoni (melakukan).

Dari rumusan ini kita dapat memahami bahwa tujuan belajar itu pada dasarnya, ialah meningkatkan pengetahuan anak didik tentang apa yang dipelajarinya, mengasah rasa untuk meningkat-kan pemahaman tentang apa yang diketahuinya, serta meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan apa yang dipelajarinya. Namun untuk membentuk karakter manusia yang berkeutamaan, tidak bisa tidak pendidikan harus membentuk orang berjiwa kepemimpinan yang mana dengan segala pengetahuan dan cita-rasa-nya seseorang dapat memilih dan mengambil sebuah tindakan dengan tanggung jawab. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, dengan tiga semboyan pendidikannya, kiranya dapat menjadi pedoman bagi kita dapat memahami pendidikan sebagai usaha pembentukan karakter menuju keutamaan moral dan penguasaan pengetahun sesuai minat dan bakat peserta didik yang mengarahkan seseorang pada keutamaan intelektual.

Berkaitan dengan hal diatas, Salah satu hal yang selalu dilupakan dalam dimensi pendidikan adalah proses berusaha dan proses belajar yang mana selalu berkaitan dengan pengalaman eksistensial setiap peserta didik. Kemampuan yang berbeda pengalaman yang berbeda dapat menghasilkan manusia yang berbeda karakter dan kemampuannya (output-nya beda) walaupun isi pengajaran dan prosesnya sama. Pendidikan harus bisa menciptakan manusia yang peka, tanggap dan sadar terhadap kondisi lingkungan dan dunianya. Maka, pendidikan harus mengarahkan peserta didiknya kepada proses refleksi. Dalam proses inilah manusia dapat memahami dan menyadari keseluruhan dari realitas hidupnya. Belajar untuk hidup, bukan hidup untuk belajar. Dalam usaha ini, peserta didik dilatih untuk bersentuhan dengan hal-hal yang rohani yang berkaitan dengan dirinya, dunia dan relasinya. Rasa religiusitas harus menjadi arah yang harus diusahakan dalam pendidikan. Keutamaan moral dan keutamaan intelektual justru akan mengarahkan manusia pada sebuah cakrawalaka realitas absolut yang menjadi dasar kehidupan yaitu menuju pada Yang Ilahi

RED/Gardantt
Item Reviewed: Kemerdekaan Sebagai Visi Pendidikan Rating: 5 Reviewed By: Trias Politika