Oleh: Yohanes Hegon Kedati
Jakarta, 17/11/2015
Jakarta, 17/11/2015
Tan Malaka adalah salah satu pemikir besar bangsa ini, lahir tahun1897 di Suliki, Sumatra Barat. Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) merupakan buku yang ditulis oleh Tan Malaka pada tanggal 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 di sebuah bilik kecil di Cililitan, Jakarta. Sebagai seorang guru bangsa ini, Madilog adalah ajaran dari Tan Malaka yang terinpirasi dari pemikiran Marx-Engels (Madilog, 41).
Jelaslah bangsa Tan Malaka mengadopsi dan mengembangkan pemikiran Barat untuk menjawab permasalahan yang terjadi di bangsa ini. Tan Malaka tentunya punya “kegalauan” tersendiri menyaksikan keadaan bangsanya. Bagaimana tidak cemas, Tan Malaka menyaksikan sendiri kemajuan bangsa Eropa yang berkembang dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya dan di negaranya yang baru berdiri banyak orang yang masih percaya tahyul dan mitos-mitos. Cara berpikir seperti inilah yang justru menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Apabila ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berkembang, bangsa Indonesia tetap akan tertinggal dari bangsa lain dan bukannya tidak mungkin—melihat situasi zaman itu—bangsa indonesia akan kembali dijajah. Tan Malaka jelas mencita-citakan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar yang maju dan modern melalui masyarakat industri. Oleh karena itu perubahan paradigma berpikir bangsa Indonesia sangat diperlukan. Lewat tulisannya, Tan Malaka berusaha untuk mengubah paradigma berpikir bangsa ini agar cita-cita Indonesia yang maju dapat tercapai.
Tan Malaka sebagai guru dan pemikir yang peduli terhadap bangsanya berusaha untuk mengupayakan perubahan paradigma berpikir bangsa Indonesia yang terkungkung dalam logika mistika. Kenapa Tan Malaka ingin mengupayakan perubahan paradigma berpikir bangsa Indonesia? Menurut Tan Malaka, bangsa Indonesia akan tumbuh menjadi masyarakat yang makmur apabila ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang dengan baik (Madilog, 55).
Oleh karena itu, logika mistika yaitu cara berpikit yang menjelaskan hal-hal yang terjadi di dunia dengan mengembalikannya kepada perbuatan roh-roh di alam gaib yang berada dibalik alam nyata, harus ditinggalkan dan sebagai gantinya ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan. Madilog dapat dimengerti sebagai himbauan seorang guru terhadap bangsanya untuk keluar dari kegelapan irasionalitas dan masuk ke dalam rasionalitas modern dan jalan untuk membebaskan diri dari logika mistika (Dalam Bayangan Lenin: enam pemikir marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, 212). Setidaknya ada empat hal pokok yang dibicarakan oleh Tan Malaka dalam madilog yaitu materialisme, dialektika, logika.
Materialisme adalah faham yang berpandangan bahwa realitas yang nyata adalah materi sedangkan kesadaran atau pikiran hanyalah gejala-gejala sekunder dari proses material belaka (Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, 295). Hal pertama yang ditawarakan oleh Tan Malaka untuk melawan logika mistika adalah berpikir secara materialis yang mana bertolak dari dunia materi yang kita alami sebagai manusia. Dunia materi yang dimaksud disini adalah benda-benda yang berupa mahkluk hidup ataupun benda mati yang dapat kita tangkap dengan indera kita. Hal-hal yang terjadi dalam kehidupan manusia harus dicari sebab-sebabnya dari dunia materi bukan dari kepercayaan terhadap tahyul atau mitos
Untuk itu, ilmu pengetahuan yang meneliti proses di dunia materi harus terus dipelajari dan dikembangkan untuk melawan logika mistika sehingga dengan demikan kita dapat menciptakan teknologi yang berdasarkan hukum-hukum alam yang diperoleh dari penelitaan-penelitan disiplin ilmu tertentu. Tan Malaka menawarkan materialisme sebagai obat mujarab untuk menembuhkan logika mistika.
Dialektika adalah warisan pemikiran Hegel. Dialektika Hegel bukan sekedar metode untuk menguraikan filsafatnya, namun menurut Hegel kenyataan adalah sebuah proses dialektis yang mana dari tesis muncul antitesis dan untuk memperdamiakannya ada sintesis. Namun, dialektika Hegel ini masih jatuh dalam idealisme yang mana berpandangan bahwa realitas yang nyata adalah Idea (pikiran). Hegel memang menemukan dialektika namun Marxlah yang berhasil menemukan hukum berpikir sebenarnya, tentang benda yang sebenarnya yang bertolak dari realitas materi (Madilog, 128).
Dialektika dipakai oleh Tan Malaka untuk menjelaskan perkembangan dalam dunia materi yang terus berproses dan berkembang. Tan Malaka menguraikan dua hukum dialektika yaitu “negasi dari negasi” (Madilog, 180), atau “pembatalan dari pembatalan” dan “perubahan kuantitas terjadi perubahan kualitas (Madilog,179). Yang pertama menjelaskan bahwa dalam materi terdapat pertentangan-pertentangan yang mendorong ke arah perubahan dan kemajuan. Yang kedua menjelaskan bagaimana dari perubahan yang semata-mata kuantitatif menjadi perubahan kualitatif. Misalnya suatu molekul organis menjadi semakin besar lalu sel yang sudah berkembang lebih besar tersebut menjadi bernyawa padahal sebelumnya tidak (Dalam Bayangan Lenin: enam pemikir marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, 220).
Dalam Madilog, Tan Malaka juga memberikan tekanan khusus pada logika untuk sebagai jalan untuk keluar dari logika mistika. Logika adalah aturan tentang cara berpikir yang masuk akal. Menurut Tan Malaka, berpikir secara materialis dan dialektis tidak boleh lepas dari logika. Lebih lanjut Tan Malaka menjelaskan bahwa berpikir secara logis berarti bahwa “persoalan pasti dijawab dengan pasti pula (Madilog, 260). Dalam Madilog kita dapat membaca banyak sekali soal-soal logika yangditulis oleh Tan Malaka.
Madilog adalah buku yang sangat relevan di zamannya untuk bisa mengubah paradigma berpikir bangsa ini untuk keluar dari kungkungan logika mistika. Di masa sekarang ini, sejalan dengan kemajuan filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi barangkali Madilog sudah tidak relevan untuk menawarakan ajaran dan contih-contohnya. Walaupun demikian cita-cita Tan Malaka sewaktu menulis Madilog tetap relevan sampai sekarang, yaitu untuk mengupayakan kemajuan dan kemakmuran Indonesia lewat perubahan paradigma berpikir. Oleh karena itu semangat “madilog” tidak boleh hilang ditelan zaman dan dilupakan generasi penerus bangsa Indonesia. Tan Malaka aadalah pemikir dan guru bangsa Indonesia yang tidak ingin bangsa hidup dalam kebodohan dan penindasan karena kebodohan. Kemeredekaan kita adalah kemerdekaan yang masih harus dimerdekakan.
Daftar Rujukan
Budi-Hardiman, Franky, 2004, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta:Gramedis
Magnis-Suseno, Frans, 2003, Dalam Bayangan Lenin: enam pemikir marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, Jakarta: Gramedia
Malaka, Tan, 1999, MADILOG: Materialisme, Dialektika, Logika,. Jakarta:Indikator

.png)