Custom Search
Hot News
Monday, November 16, 2015

Realitas Manusia


Oleh: Yohanes Hegon Kedati
Jakarta, 17/11/2015

Manusia hidup di dunia sebagai salah satu makhluk hidup yang mana ada juga hewan dan tumbuhan. Tentunya manusia berbeda dari dua makhluk lainnya, namun makhluk yang paling dekat dengan kondisi manusia adalah binatang. Tidak heran bila menjawab pertanyaan: “Siapakah manusia?”, selalu bertolak dari perbedaan manusia dan binatang .

Namun yang menjadi kekhasan manusia adalah memiliki kemampuannya merefleksikan dirinya yang mana kegiatan berefleksi melibatkan kemampuan berpikir dan kemampuan rasa. Refleksi adalah kegiatan yang khas rohaniah. Dalam refleksi, manusia kembali kepada dirinya sendiri dan kepada pengalaman-pengalamannya, juga kepada keyakinan-keyakinannya yang berkembang dalam hidup sehari-hari.

Manusia mempertanyakan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya dan kehidupan. Manusia adalah mahkluk yang jasmani sekaligus rohani. Dia berpikir dan berefleksi dan melakukan tindakan sesuai pilihan hidupnya. Kekhasan itulah yang mendorong manusia yang bertubuh (dimensi materi) selalu merindukan hal-hal yang baik, yang indah dan yang membahagiakan (dimensi rohani)

Manusia dan Dunianya

Manusia hidup dunia ini atau bisa dikatakan manusia ada dalam dunia. Manusia tidak ada begitu saja di dunia, manusia memiliki eksistensi. Manusia yang berada-di- dunia menunjukan adanya keprihatinan atau concern, yang menandai hubungan manusia dengan realitas sekitarnya. Dunia adalah suatu “sistem instrumental”, setiap kenyataan terkaita satu dengan yang lainnya. Keprihatinan manusia adalah “keprihatinan yang praktis” yang harus dituntaskan. Dengan keprihatinannya, realitas dunia disatukan dengan manusia. Hal-hal yang terjadi begitu saja—present at hand—berubah menjadi realitas yang instrumental—ready to hand.

Berkaitan dengan hal itu, manusia yang ada di dunia memiliki dan menguasai waktu dam manusia eksistensial menuju pada kematian . Pemaknaan akan hidup menjadi hal yang sangat penting ketika manusia menyadari keberadaannya di dunia ini, termasuk dalam hal ini adalah dimensi “penggunaan” dari benda-benda. Dengan demikian, pemaknaan menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari konteks manusiawi .

Manusia tidak hanya “ada-di-dunia” tapi juga sekaligus “ada-di-dunia-bersama-dengan manusia lain”. Dengan demikian, manusia juga sekaligus makhluk yang berelasi dengan sesamanya. Manusia mengenal dirinya dan menjadi dirinya dengan keluar dari diriya dan berelasi dengan dunianya, sesamamu dan juga dengan Tuhan . Pengalaman eksistensial manusia dengan dunianya, sesamanya, dan Tuhan mengarahkan manusia dalam pembentukan dirinya dalam rangka penggunaan kebebasan dan tanggungjawabnya. Kebebasan dan tanggungjawab merupakan hal yang melekat erat dalam diri manusia yang sadar akan relasinya dengan dunia, sesama dan Tuhan.

Manusia memiliki kebebasan yang mana kebebasan menuntut pertanggungjawaban dengan sendirinya. kebebasan dan tanggung jawab inilah yang menuntun manusia mencapai kemerdekaan, yaitu kemampuan pribadi untuk memilih, dan menentukan diri dengan segenap pengetahuan, cita, rasa dan karsanya tanpa ada paksaan dari dari orang lain.

Berkaitan dengan hal di atas, dimensi kerja tidak bisa pisahkan dalam hidup manusia, dimensi relasionalnya dan pengembangan dirinya. Kerja menjadi cara manusia meng-ada, mengembangkan kemampuan minat dan bakat agar bisa menjadi sebuah aktualisasi diri. Kerja adalah aktivitas manusia yang berasal dari akal budi maupun fisik atau jasmani yang dilakukan untuk kemajuan kebahagian manusia.

Dalam hal ini, gereja Katolik juga memandang bahwa kerja adalah bentuk perealisasian diri manusia, inilah hakekat kerja . Melalui kerja, manusia merealisasikan diri dihadapan Allah sebagai rekan penciptaan sehingga kerja itu baik untuk kemanusiaan manusia. Melalui kerja, manusia tidak hanya mengubah alam, menyesuaikannya dengan kebutuhan-kebutuhannya sendiri, melainkan mencapai pemenuhan juga selaku manusia dan memang dalam arti tertentu menjadi lebih manusiawi.

Manusia dan Ketuhanan

Penghayatan terhadap Yang ilahi (Tuhan) ada dalam setiap kebudayaan di dunia Tidak ada satu masyarakat di dunia ini yang tidak beragama maka dalam sejarah kebudayaan, manusia memperkenalkan diri sebagai manusia “homo religious”, makhluk yang beragama . Dimensi religiusitas kita temukan dalam diri kita sendiri. Penghayatan religious termasuk salah satu penghayatan manusia manusiawi yang menjadi bahan refleksi manusia. Dalam refleksi atas penghayatan religious manusia memukan dirinya terarah pada Yang Ilahi, Tuhan. Gabriel Marcel, seorang Filsuf Perancis mengatakan bahwa; “I become consciousof the orientation of my personality toward the absolute Thou, God”. Dimensi Ketuhanan berhubungan dengan seluruh kenyataan. Tuhan ditemukan sebgai “the groundof all being .Dalam penghayatan religious, manusia melihat kehadiran Tuhan dalam dalam segala kenyataan.

Pengalaman religious mengantar sesorang menghayati kehadiran Yang Ilahi (Tuhan) dalam kehidupannya. Penghayatan dan pemaknaan yang positif terhadap kehidupan memberikan kemampuan untuk menyadari kekuatan dan penyertaan yang ilahi dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita menghayati diri dan kehidupan kita sebagai sebuah angrah (gracious).

Dengan menghayati diri sebagai anugrah, Kita berada dalam suatu relasi syukur terhadap keberadaan diri kita di dunia. Pada saat kita menghayati diri dan kehidupan sebagai rasa syukur kita menerima diri sebagai sebuah sukacita yang cuma-cuma. kehidupan dari Yang Ilahi menjadi jawaban syukur atas anugrah yang cuma-cuma .  Red/Gardantt
Item Reviewed: Realitas Manusia Rating: 5 Reviewed By: Trias Politika