Nama:Febri Edo
Mahasiswa Komunikasi (jurnalistik),Jakarta
Menjelang Pilkada,khususnya Manggarai dan Manggarai Barat,masing-masing calon menyusun strategi,pola kampanye terutama visi misi meraka ke depan publik.Tak dapat dipungkiri,visi misi mereka begitu pro rakyat dan membangun sebuah jejaring opini publik,,merekalah sang “pendekar” pembela rakyat.Persepsi publik akan dibangun dengan sendirinya baik ditilik dari visi misi calon kepala daerah maupun ditilik dari berbagai aspek tentang si calon.Bahkan, ada calon tertentu maupun tim suksesnya membentuk opini publik untuk “menyerang” calon lain,tanpa menggunakan argumentasi yang jelas dan terkesan menduga-duga.
Kegagalan persepsi dekade pilkada sesuatu hal yang sungguh menyesatkan. Dalam ilmu komunikasi,ada beberapa faktor yang mempengaruhi kegagalan persepsi antara lain:pertama, Kesalahan Atribusi.Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik seseorang, karena faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka.
Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna pesan atau maksud perilaku si pembicara.atribusi kita juga keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor internal, padahal faktor eksternal-lah yang menyebabkannya, atau sebaliknya kita menduga faktor eksternal yang menggerakkan seseorang, padahal faktor internal-lah yang membangkitkan perilakunya.Salah satu sumber kesalahan atribusi lainnya adalah pesan yang dipersepsi tidak utuh atau tidak lengkap, sehingga kita berusaha menafsirkan pesan tersebut dengan menafsirkan sendiri kekurangannya, atau mengisi kesenjangan dan mempersepsi rangsangan atau pola yang tidak lengkap itu sebagai lengkap.
Kedua, Efek Halo.Kesalahan persepsi yang disebut efek halo (halo effects) merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk suatu kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Efek halo ini memang lazim dan berpengaruh kuat sekali pada diri kita dalam menilai orang-orang yang bersangkutan. Bila kita sangat terkesan oleh seseorang, karena kepemimpinannya atau keahliannya dalam suatu bidang, kita cenderung memperluas kesan awal kita. Bila ia baik dalam satu hal, maka seolah-olah ia pun baik dalam hal lainnya. Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan. Para pakar menyebut hal itu sebagai “hukum keprimaan” (law of primacy).
Ketiga,Stereotif.Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarakan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang dan objek-objek ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang dianggap sesuai, alih-alih berdasarkan karakteristik individual mereka.Contoh stereotip ini banyak sekali, misalnya:Laki-laki berpikir logis,wanita bersikap emosional dan lain sebagainya.
Pada umumnya, stereotip bersifat negatif. Stereotip ini tidaklah berbahaya sejauh kita simpan dalam kepala kita. Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip ini diaktifkan dalam hubungan manusia. Apa yang anda persepsi sangat dipengaruhi oleh apa yang anda harapkan. Ketika anda mengharapkan orang lain berperilaku tertentu, anda mungkin mengkomunikasikan pengharapan anda kepada mereka dengan cara-cara yang sangat halus, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan berperilaku sesuai dengan yang anda harapkan.
Kelempat,Prasangka.Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan prasangka, seperti Donald Edgar dan Joe R. Fagin. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi prasangka ini konsekuensi dari stereotip, dan lebih teramati daripada stereotip. Menurut Ian Robertson, pikiran berprasangka selalu menggunakan citra mental yang kaku yang meringkas apapun yang dipercayai sebagai khas suatu kelompok. Citra demikian disebut stereotip.
Meskipun kita cenderung menganggap prasangka berdasarkan suatu dekotomi, yakni berprasangka atau tidak berprasangka, lebih bermanfaat untuk menganggap prasangka ini sebagai bervariasi dalam suatu rentang dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Sebagaimana stereotip, prasangka ini alamiah dan tidak terhindarkan. Pengguanaan prasangka memungkinkan kita merespon lingkungan secara umum, sehingga terlalu menyederhanakan masalah.
Kelima,Gegar Budaya.Menurut Kalvero Oberg, gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda yang sudah dikenal dan simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmamapuan menyesuaikan diri (personality mal-adjustment) yang merupakan suatu reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Sedangkan menurut P. Harris dan R. Moran, gegar budaya adalah suatu trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang baru dan berbeda karena harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai budaya dan pengharapan baru, sementara nilai budaya dan pengharapan budaya lama tidak lagi sesuai.
Dalam ruang lingkup menjelang pilkada baik Manggarai maupun Manggarai Barat,kegagalan persepsi tersebut kian mencuat.Dalam membagun persepsi, kita bisa memetakan persepsi berkualitas atau tidak.Ketika kita memtakan dalam ruang pikiran,menjelang pilkada dengan lima point kegagalan persepsi calon maupun tim sukses masing calon akan muncul dengan sendiri, persepsi sesungguhnya antara kebohongan dan kebenaran persepsi.Kalau kita kembali kepada situasi yang aktual dan hangat diperbicangkan kedua daerah baik Manggarai Barat maupun Manggarai.
Situasi Manggarai Barat yang kian mencuat menjelang Pilkada,adalah “privatisasi”Pantai Pede,yang sampai sekarang masih menuai perdebatan panjang akan eksisitensinya diserahkan kepada investor(PT SIM),kelompok Setya Novanto atau Pantai Pede tetap menjadi ruang publik dan penuh problematik.Menga di sebut problematik?,karena,banyak publik menilai bahwa Pantai Pede tetap menjadi ruang publik dan ada sebagian publik juga menilai secara yuridis Pantai Pede milik Pemprov NTT(Frans Lebu Raya).
Kedua,diduga ada skandal korupsi jalan Lando-Noa,dimana skandal korupsi juga diduga permainan elite dengan PT Sinar Lembor selaku kontraktor jalan Lando-Noa.Dengan demikian, kegagalan persepsi akan muncul di permukaan publik persepsi antara kebenaran dan kemunafikan,siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan,mengingat momen Pilkada yang sedang hangat diperbicangkan di daerah tersebut.Dengan demikian pembeturan nilai-nilai demokrasi nampak sekali,apakah ini sebuah by desain atau lumrah karena ada penyimpangan.Kegagalan persepsi ini retan sekali mempengaruhi pola piker masyarakat,terutama masyarakat menengah ke bawah (middle low).
Situasi menarik juga datang dari Kabupaten Manggarai dengan adanya isu monopsony.Dan ini semua datang dari sebuah analisis panjang dan persepsi yang berpatokan pada nilai kebenaran,agar isi pesan(content) tidak mengesampingkan pesan sesungguhnya yakni bonum publicum(kebahagian masyarakat).
Untuk mencapai pada kesimpulan akhir,kegagalan persepsi decade pilkada yakni pertama, sensasi(asensi),dimana Informasi yang kita tangkap dari proses melihat, mencium, mendengar, merasakan, dan meraba tersebut kita proses kembali untuk dapat menghasilkan persepsi terhadap sesuatu.Kedua, Persepsi Bersifat Selektif,kareana,pada dasarnya melalui indera kita, setiap saat diri kita ini dirangsang dengan berjuta rangsangan. Jika kita harus memberikan tafsiran atas semua rangsangan itu, maka kita ini bisa menjadi gila. Karena itu, kita dituntut untuk mengatasi kerumitan tersebut dengan memperhatikan hal-hal yang menarik bagi kita. Atensi kita pada dasarnya merupakan faktor utama dalam menentukan seleksi atas rangsangan yang masuk ke dalam diri kita.
Ketiga,Persepsi Bersifat Dugaan, Karena pada dasarnya data yang kita peroleh melalui penginderaan tidak pernah lengkap, makasering kita melakukan dugaan atau langsung melakukan penyimpulan. Coba perhatikan gambar apa yang bisa dibuat dengan ketiga titik dan keempat titik berikut ini.
Keempat, Persepsi Bersifat Evaluatif,artinnya, tidak sedikit orang beranggapan bahwa apa yang mereka persepsikan sebagai sesuatu yang nyata. Artinya, perasaan seseorang sering mempengaruhi persepsinya, padahal hal tersebut bukanlah sesuatu yang objektif. Kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman masa lalu dan kepentingan subjektif kita sendiri. Karena itu persepsi bersifat evaluatif; merupakan proses kognitif yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai dan pengharapan dengan memaknai objek persepsi itu sendiri.
Kelima,Persepsi Bersifat Kontekstual,artinya, dari setiap peristiwa komunikasi, seseorang selalu dituntut untuk mengorganisasikan rangsangan menjadi suatu persepsi. Konteks nampaknya berpengaruh kuat atas persepsi yang terbentuk dalam diri seseorang.Meskipun sesungguhnya banyak informasi yang kita perlukan untuk melakukan persepsi terhadap orang lain, namun paling tidak ada tiga jenis informasi terpenting yang perlu kita ketahui, yaitu tujuan orang tersebut, kondisi internalnya (psikologis), dan kesamaan antara kita dengan orang tersebut. Mempersepsi tujuan orang lain memiliki beberapa arti bagi kita dalam berkomunikasi. Adalah hal yang tidak mungkin bagi kita untuk secara nyata mengamati kondisi internal orang lain. Namun melalui pengamatan terhadap perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang tersebut.Ada anggapan bahwa elemen non-verbal dari perilaku merupakan refleksi yang paling akurat dari perasaan atau kondisi internal seseorang. Sementara itu, adanya kesamaan antara kita dengan orang yang kita ajak berkomunikasi akan mendorong rasa saling menyukai. Keadaan semacam ini akan membantu kita untuk merasa lebih nyaman dalam melanjutkan komunikasi.
Dalam proses pilkada,kegagalan persepsi publik sangat retan sekali "mendokrin" pemikiran masyarakat.Hal seperti ini,banyak dilakukan oleh beberapa kandidat,terutama timsukses tertentu,yang merupakan aktor intelektual.Untuk itu,masyarakat harus jeli menilai, calon yang akan dipilih nantinya agar logika berpikir berjalan seiring dengan visi misi maupun track record masing calon dan mampu memimpin menuju masyarakat yang sejahtera.

.png)