Custom Search
Hot News
Wednesday, November 18, 2015

Ala Politik Blunder Novanto,Dicatut Balik

Penulis Febri Edo
Media dan Komunikasi Garda NTT
Model politik "kapital" ala Setya Novanto kini terkuak.Baru saja, Ketua DPR Setya Novanto,jadi objek pembicaraan negatif di sosial media.Banyak orang mengkritik bahkan,mencela tokoh partai Golkar itu,lantaran kunjungan ke Amerika Serikat dan ikut nimbrung dalam konfrensi pers Donald Trumpt,seorang politisi dan pengusaha besar Amerika Serikat itu.Dan tidak kala kontraversionalnya,Setya Novanto membawa mobil mewah,Jaguar dengan nomor polisi RI 6.Plat nomor polisi itu,diambil dari mobil dinasnya yang sedang rusak.Melalui sopirnya,Setya Novanto mengatakan itu mobil anaknya.

Setelah Setya Novanto ditetapkan sebagai Ketua DPRI,kompas online waktu itu langsung memberikan stigma negatif,”ICW membeberkan Sejumlah Kasus Setya Novanto”.

Isi berita Kompas,sebelumnya,Setya Novanto digadang-gadang,sebagai Ketua DPRI.Dan menggiring opini publik bahwa,politisi Golkar tersebut dijerat serangkaian kasus dan tak layak memimpin DPR.Suara protes Kompas mewakili kekecewaan kubu Jokowi yang kalah telak dalam perebutan jabatan strategis di Parlemen.

Pada waktu itu,Abraham Samad,Ketua KPK menyimpulkan:”Setya Novanto berpotensi memiliki masalah hukum”.Pernyataan itu menuai kegusaran berbagai pihak.Politisi Gerindra,Fadli Zon spontan menantang Abraham Samad.untuk menangkap Setya Novanto.”Kalau memang salah,tangkap kalau berani,jangan asal ngomong”,tegas Fadli Zon.Memang sudah diduga dua politisi asal Golkar dan Gerindra ini,kerap membuat situasi menjadi geram,terutama celotehan mereka terhadap pemerintahan Jokowi-JK.

Kenyataan itu membuat publik bingung.Benarkah Setya Novanto tejerat masalah hukum?.Jawabannya tergantung Kompas dan KPK untuk membeberkan bukti-bukti kejahatan korupsi Setya Novanto pada waktu itu.Dan,sayangnya pada waktu itu juga Ketua KPK,Abraham Samad digiring dalam masalah hukum.dan dinonaktifkan menjadi ketua KPK.

Dan sekarang publik pun berharap masalah sekarang tentang pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden oleh Setya Novanto,harus diungkap seadil-adilnya.Kita berharap laporan rekaman Menteri ESDM,Sudirman Said Kepada MKD(Makamah Kehormatan Dewan),untuk segera mengambil sikap tegas dan jangan dipolitisir.Adil, seadilnya sesuai perundang-unadangan yang berlaku.


Elaborasi Politik “Kapital” Novanto

Dalam kunjungan beberapa bulan lalu,dengan beberapa anggota DPR yang dipelopori Setya Novanto,menuai kecaman dari beberapa anggota DPR,LSM dan masyarakat.Banyak yang menilai DPR,khusunya ketua DPR,tidak menjalankan fungsinya sebagai anggota dewan yakni, menyambung aspirasi masyarakat.Dan itu, telah diatur dalam Undang-undang yang berlaku sebagaimana fungsi dewan yakni,legislasi,kontrol dan Penganggaran.

Menurut data dari Forum Indonesia (FITRA),sekitar 73% publik marah.Kemarahan ini jelas sekali,diterongpong oleh sikap anggota dewan yang tidak menjalankan fungsinya semestinya dan memetingkan diri sendiri dari pada masyarakat banyak.Dan kita semua tau,bangsa ini,dalam situasi krisis,malah mereka keluar negeri dengan mempertunjukan kemewahan mereka di atas penderitaan rakyat.Dan sekitar 11% terganggu terhadap kunjungan DPR yang dipelopori Setya Novanto ke Amerika ini,sekitar 8% sedih dan 8% lagi terinspirasi.Dan saya berasumsi bahwa,8% terinspirasi tersebut bagian dari produk kapital atau pemodal.

Berikut ini,hasil rilis,Forum Indonesia untuk Transparan Anggaran(FITRA).Biaya perjalanan dinas,anggota DPRI.FITRA merilis biaya Pesawat ke New York menghabiskan 14,428 USD atau setara 204 jutaan untuk sekali perjalanan.Uang harian 527 USD atau setara 7,4 juta per anggota DPR.Hotel sekitar 1.312,02 USD atau setara 18,5 juta  per anggota DPR dalam satu malam.Total RP 25,9 juta per hari per anggota atau 310 juta per 12 hari.Jika ditambah, dengan biaya pesawat,maka setiap anggota DPR menghabiskan RP 514 juta atau setengah miliar rupiah atau 4,626 miliar untuk 9 anggota DPR yang ke New York,Amerika Serikat itu.

Lalu pertanyaan lanjutan,berapa biaya ongkos sebenarnya?.Kalau kita melirik peraturan Menteri Keuangan 53/PMK.02/2014 tentang Standar Biaya Masukan 2015,kunjungan Setya Novanto dan 8 rekannya ke New York menghabiskan uang Negara sebesar 4,6 miliar atau seperti yang dilangsir oleh Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) yang menghabiskan sebesar 4,626 miliar.Dan memang Pengusaha besar atas nama Harry Tanu,bos MNC Group itu,dikabarakan membiayai perjalanan mereka.

Dan ketika kita,melirik keputusan MKD(Makaah Kehormatan Dewan),pada waktu itu,Setya Novanto Cs dipanggil,karena diduga melanggar kode etik dan marwah anggota dewan.Pada waktu itu,Setya Novanto tidak memenuhi panggilan  atau mangkir dari panggilan MKD dua kali,dengan alasan yang tidak rasional,yakni karena ada kegiatan yang sudah ada dalam skedul.Dan begitu juga politisi Gerindra,Fadli Zon mangkir dari panggilan MKD dengan alasan ada kegiatan di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Kini,tindakan Setya Novanto yang kontraversional ini,mencuat lagi.Kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden untuk meminta saham PT Freeport Maroef Sjamsoeddin,merekam pembicaraan yang berisi dugaan pencatutan nama Presiden.Banyak kalangan,apresiasi tindakan berani dari Menteri ESDM,Sudirman Said untuk melaporkan ini ke MKD.

Rekaman yang menjadi dasar rekaman Sudirman Said adalah berisi tentang pembicaraan tiga orang yang diduga,Setya Novanto,pengusaha minyak berinisial R dan Maroef Sjamsoeddin.Pembicaraan terjadi di sebuah hotel di kawasan Pasific Place 8 juni, 2015 pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Pertemuaan itu,adalah pertemuaan ketiga.Pertemuaan tersebut diberi inisial oleh Setya Novanto dan penguasaha.Dalam jumpa pers melaporkan anggota DPR ke MKD di gedung DPRI,Jakarta Senin,(16/11/2015),Sudirman Said menyebutkan politisi itu, bersama pengusaha beberapa kali memanggil dan melakukan pertemuan dengan pimpinan PT Freeport.

Dari pertemuan pertama dan kedua pimpinan PT Freeport menilai arah pembicaraan mengarah pada kemauan DPR meminta saham kepada PT Freeport yang dikaitkan dengan janji mempanjang kontrak Freeport yang berakhir 2021.

Maka,pertemuaan ketiga hari Senin,8 Juli 2015 pukul 14.00 WIB-1600 WIB,di kawasan Pasific Place,SCBD,Jakarta.Pertemuaan tersebut direkam dan dilaporkan Pimpinan PT Freeport kepada Menteri ESDM,Sudirman Said.”Anggota DPR tersebut menjanjikan suatu cara penyelesaian tentang kelanjutan kontrak PT Freeport dan meminta agar PT Freeport memberikan saham yang disebutnya akan diberikan kepada Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla”,ucap Sudirman soal pertemuaan ketiga itu.Permintaan yang diajukan tak tanggung-tanggung.Si politisi kuat itu,meminta 20% saham PT Freeport,yang dikasih 11% untuk Presiden Jokowi dan 9% untuk Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sementara,untuk proyek listrik di Papua,dia meminta PT Freeport menjadi investor sekaligus off-taker(pembeli) tenaga listrik.Diproyek listrik Si anggota DPR meminta saham yang angkanya cukup besar 49% saham dan sisanya sebesar 51% untuk PT Freeport sebagai investor.Semua pembicaraan itu terekam dalam pembicaraan ketiga di Hotel Pasific.

Kini,siapa komandan DPR itu?,dan jelas sudah tersebar di sosial media transkrip asli pelaporan dari Sudirman Said.Dan transkrip dari Menteri ESDM,Sudirman Said sudah menyerahkan itu ke MKD(Makamah Kehormatan Dewan).

Kita berharap,semoga MKD(Makamah kehormatan Dewan),dapat mengambil keputusan seadil-adilnya,sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.Dan Semoga MKD,dapat menjelaskan secara detail ke hadapan publik,agar transparan dan nilai-nilai kebenaran tetap dijunjung tinggi.Dan kita semua percaya,MKD akan mengambil langkah tegas,jikalau apa yang dilakukan Setya Novanto terbukti pelanggaran hukum.



Item Reviewed: Ala Politik Blunder Novanto,Dicatut Balik Rating: 5 Reviewed By: FEBRI EDO