Jakarta- Menjelang Pilgub NTT 2018, berbagai nama dimunculkan antara lain: DR. Benny K. Harman- Benny Litelnoni (Harmoni), Ir. Eston Foeney-Cristian Rotok, Marianus Sae-Nomleni, Viktor Laiskodat- Josef Nai Soi yang layak diketahui rakyat NTT.
Masyarakat NTT harus mengetahui track record mereka sejauh mana, mereka
memperjuangkan kedaulatan rakyat NTT. Sehingga persepsi publik akan dibangun
dengan sendirinya baik ditilik dari visi misi calon gubernur nantinya maupun
ditilik dari berbagai aspek tentang si calon. Berpikir integral seperti inilah,
kita bisa melihat dan menelaah pemimpin NTT yang tepat kedepannya. Terutama
masyarakat NTT harus bisa membedakan fungsi eksekutif maupun legisltif,
kebijakan bupati maupun maupun gubernur, dengan ruang yang mereka miliki terhadap kebijakan yang
diambil. Kesan inilah yang didenungkan masyarakat NTT supaya publik dicerahkan bagaimana
fungsi eksekutif dan legislatif maupun latar belakang lainya dari
rekam jejak sang calon
itu beda dan begitu pula dengan kebijakan yang diambil untuk masyarakat agar
publik mengalami tidak mengalami " kegagalan" pesepsi pasca pilgub.
Dan bagaimana visi misi si calon bisa diterima akal sehat sesuai konteks NTT,
utama kebutuhan masyarakat NTT.
Kegagalan persepsi pasca pilgub sesuatu hal yang sungguh
menyesatkan. Dalam ilmu komunikasi,ada beberapa faktor yang mempengaruhi kegagalan
persepsi antara lain:
Pertama, Kesalahan Atribusi
Atribusi adalah proses internal
dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha
mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya,
kita mengamati penampilan fisik seseorang, karena faktor seperti usia, gaya
pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama
mereka. Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna pesan
atau maksud perilaku si pembicara atribusi kita juga keliru bila kita
menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor internal, padahal
faktor eksternal-lah yang menyebabkannya, atau sebaliknya kita menduga faktor
eksternal yang menggerakkan seseorang, padahal faktor internal-lah yang
membangkitkan perilakunya.Salah satu sumber kesalahan atribusi lainnya adalah
pesan yang dipersepsi tidak utuh atau tidak lengkap, sehingga kita berusaha
menafsirkan pesan tersebut dengan menafsirkan sendiri kekurangannya, atau
mengisi kesenjangan dan mempersepsi rangsangan atau pola yang tidak lengkap itu
sebagai lengkap.
Kedua, Efek Halo.
Kesalahan persepsi yang disebut efek
halo (hallo
effects) merujuk
pada fakta bahwa begitu kita membentuk suatu kesan menyeluruh mengenai
seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas
penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Efek halo ini memang lazim
dan berpengaruh kuat sekali pada diri kita dalam menilai orang-orang yang
bersangkutan. Bila kita sangat terkesan oleh seseorang, karena kepemimpinannya
atau keahliannya dalam suatu bidang, kita cenderung memperluas kesan awal kita.
Bila ia baik dalam satu hal, maka seolah-olah ia pun baik dalam hal
lainnya.Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang
biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan. Para pakar menyebut hal itu
sebagai “hukum keprimaan” (law of primacy).
Ketiga, Stereotif.
Kesulitan komunikasi akan muncul
dari penstereotipan (stereotyping),
yakni
menggeneralisasikan
orang-orang berdasarkan sedikit
informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarakan keanggotaan mereka
dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses
menempatkan orang-orang dan objek-objek ke dalam kategori-kategori yang mapan,
atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan
kategori-kategori yang dianggap sesuai, alih-alih berdasarkan karakteristik
individual mereka.Contoh stereotip ini banyak sekali, misalnya:Laki-laki
berpikir logis,wanita bersikap emosional dan lain sebagainya
Pada umumnya, stereotip bersifat
negatif. Stereotip ini tidaklah berbahaya sejauh kita simpan dalam kepala kita.
Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip ini diaktifkan dalam hubungan
manusia. Apa yang kita persepsi sangat dipengaruhi oleh apa yang anda harapkan.
Ketika anda mengharapkan orang lain berperilaku tertentu, anda mungkin
mengkomunikasikan pengharapan kita kepada mereka dengan cara-cara yang
sangat halus, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan berperilaku
sesuai dengan yang diharapkan.
Keempat, Prasangka.
Suatu kekeliruan persepsi terhadap
orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan
stereotip. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik
dengan prasangka, seperti Donald Edgar dan Joe R. Fagin. Dapat dikatakan bahwa
stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan
prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi prasangka ini konsekuensi dari
stereotip, dan lebih teramati daripada stereotip. Menurut Ian Robertson,
pikiran berprasangka selalu menggunakan citra mental yang kaku yang meringkas
apapun yang dipercayai sebagai khas suatu kelompok. Citra demikian disebut
stereotip.
Meskipun kita cenderung menganggap
prasangka berdasarkan suatu dekotomi, yakni berprasangka atau tidak
berprasangka, lebih bermanfaat untuk menganggap prasangka ini sebagai
bervariasi dalam suatu rentang dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi.
Sebagaimana stereotip, prasangka ini alamiah dan tidak terhindarkan.
Pengguanaan prasangka memungkinkan kita merespon lingkungan secara umum,
sehingga terlalu menyederhanakan masalah.
Kelima,Gegar Budaya.
Menurut Kalvero Oberg, gegar budaya
ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda yang sudah dikenal dan
simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah
suatu bentuk ketidakmamapuan menyesuaikan diri (personality mal-adjustment) yang merupakan suatu reaksi terhadap
upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
orang-orang baru. Sedangkan menurut P. Harris dan R. Moran, gegar budaya adalah
suatu trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang baru dan
berbeda karena harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai budaya dan
pengharapan baru, sementara nilai budaya dan pengharapan budaya lama tidak lagi
sesuai.
Dalam ruang lingkup Pilgub NTT tahun
2013, kegagalan persepsi tersebut kian mencuat. Dalam membagun persepsi, kita
bisa memetakan persepsi berkualitas atau tidak. Ketika kita memetakan dalam
ruang pikiran, menjelang pilkada dengan lima point kegagalan persepsi calon
maupun tim sukses masing calon akan muncul dengan sendiri, persepsi
sesungguhnya antara kebohongan dan kebenaran persepsi. Contoh,
masih banyak masyarakat yang terkontaminasi dengan kesukukuaan atau agama dalam memilih calon pemimpin baik
bupati, maupun gubernur.
Kegagalan persepsi ini retan sekali
mempengaruhi pola pikir masyarakat dimana saat Pilgub NTT 2013, Benny K. Harman
dipanggil KPK untuk meminta keterangan bukan saksi apalagi
tersangka yang riuh di telinga publik dan pada saat itu moment Pilgub. Dan menyebar virus di
masyarakat seakan akan kalau dipanggil KPK berarti koruptor. Hal ini, harus diketahui masyrakat NTT untuk membedakan tersangka,
terdakwa dan saksi atau hanya meminta keterangan (membuka
jalan) supaya jangan dipelintir. Alhasil
Benny Harman aman-aman saja dan beliau orang yang taat hukum dan sangat
menghormati hukum. Dan Pilgub 2018 semoga publik bisa
menilai, dan memastikan secara baik, siapa pemimpin yang layak menjadi gubernur
NTT akan datang.
Dan ini semua datang dari sebuah
analisis panjang dan persepsi yang berpatokan pada nilai kebenaran,agar isi
pesan
(content)
tidak mengesampingkan pesan sesungguhnya yakni bonum publicum(kebahagian masyarakat).
Untuk mencapai pada kesimpulan
akhir,kegagalan persepsi pasca pilkada yakni Pertama, sensasi(asensi),dimana Informasi yang kita tangkap dari proses
melihat, mencium, mendengar, merasakan, dan meraba tersebut kita proses kembali
untuk dapat menghasilkan persepsi terhadap sesuatu.
Kedua,
Persepsi Bersifat Selektif,
karena,
pada dasarnya melalui indera kita,
setiap saat diri kita ini dirangsang dengan berjuta rangsangan. Jika kita harus
memberikan tafsiran atas semua rangsangan itu, maka kita ini bisa menjadi gila.
Karena itu, kita dituntut untuk mengatasi kerumitan tersebut dengan
memperhatikan hal-hal yang menarik bagi kita. Atensi kita pada dasarnya
merupakan faktor utama dalam menentukan seleksi atas rangsangan yang masuk ke
dalam diri kita.
Ketiga,
Persepsi Bersifat Dugaan, Karena pada dasarnya data yang kita peroleh melalui
penginderaan tidak pernah lengkap, makasering kita melakukan dugaan atau
langsung melakukan penyimpulan. Coba
perhatikan gambar apa yang bisa dibuat dengan ketiga titik dan keempat titik
berikut ini.
Keempat, Persepsi Bersifat Evaluatif,artinnya, tidak sedikit orang
beranggapan bahwa apa yang mereka persepsikan sebagai sesuatu yang nyata.
Artinya, perasaan seseorang sering mempengaruhi persepsinya, padahal hal
tersebut bukanlah sesuatu yang objektif. Kita melakukan interpretasi
berdasarkan pengalaman masa lalu dan kepentingan subjektif kita sendiri. Karena
itu persepsi bersifat evaluatif; merupakan proses kognitif yang mencerminkan
sikap, kepercayaan, nilai dan pengharapan dengan memaknai objek persepsi itu
sendiri.
Kelima,Persepsi Bersifat Kontekstual,artinya, dari setiap peristiwa
komunikasi, seseorang selalu dituntut untuk mengorganisasikan rangsangan
menjadi suatu persepsi. Konteks nampaknya berpengaruh kuat atas persepsi yang
terbentuk dalam diri seseorang.Meskipun sesungguhnya banyak informasi yang kita
perlukan untuk melakukan persepsi terhadap orang lain, namun paling tidak ada
tiga jenis informasi terpenting yang perlu kita ketahui, yaitu tujuan orang
tersebut, kondisi internalnya (psikologis), dan kesamaan antara kita dengan
orang tersebut. Mempersepsi tujuan orang lain memiliki beberapa arti bagi kita
dalam berkomunikasi. Adalah hal yang tidak mungkin bagi kita untuk secara nyata
mengamati kondisi internal orang lain.
Namun melalui pengamatan terhadap
perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang
tersebut.Ada anggapan bahwa elemen non-verbal dari perilaku merupakan refleksi
yang paling akurat dari perasaan atau kondisi internal seseorang. Sementara
itu, adanya kesamaan antara kita dengan orang yang kita ajak berkomunikasi akan
mendorong rasa saling menyukai. Keadaan semacam ini akan membantu kita untuk
merasa lebih nyaman untuk melanjutkan komunikasi.
Menjelang pilgub atau pasca pilgub,
kegagalan persepsi publik sangat rentan sekali "mendokrin" pikiran
masyarakat.
Di NTT pasca Pilgub 2013,
dimana ada salah satu calon sebut saja DR. Benny K. Harman, dipanggil KPK untuk
diminta keterangan pada
waktu itu. Di mata publik dengan propaganda politik oleh lawan politik
seakan-akan bahwa, kalau dipanggil KPK berarti aktor korupsi. Pada hal, Benny
Harman dipanggil KPK sebagai hanya
diminta keterangan bukan terdakwa apalagi tersangka. Sehingga ini
memuluskan rencana lawan politik ini menjatuhkan lawan politik
dengan melakukn pembohongan publik seara masif.
Untuk itu, masyarakat harus butuh
pencerahan dan edukasi jangan sampai terdokrin dengan pikiran liar aktor
tertentu yang tidak melalui kajian, tetapi sekedar estimasi. Masyarakat
dituntut untuk memilih pemimpin NTT ke depan dengan jeli seiring dengan visi
misi masing- masing calon secara baik dan benar, sehingga pemimpin kita
harapkan dapat tercapai untuk kemajuan masyarakat NTT secara keseluruhan.
Stempel
dosa dan stigmatisasi kemiskinan, darurat korupsi maupun berbagai masalah yang
kian menggerogoti NTT selama ini, diminimalisir dengan menentukan pemimpin akan
datang yang betul-betul visi dan misinya tepat sasar dalam membangun NTT.
Karena pemimpin yang diharapkan masyarakat NTT adalah pemimpin yang mau keluar
dari stigmatisasi di atas.
Penulis Febri Edo
(Generasi Milenial/Zaman Now)

.png)