Custom Search
Hot News
Sunday, January 28, 2018

Testimoni Soal BKH, Menjawab Persepsi Publik



Jakarta- Menjelang Pilgub NTT 2018, berbagai nama dimunculkan antara lain: DR. Benny K. Harman- Benny Litelnoni (Harmoni), Ir. Eston Foeney-Cristian Rotok, Marianus Sae-Nomleni, Viktor Laiskodat- Josef Nai Soi yang layak diketahui rakyat NTT.



Masyarakat NTT harus mengetahui track record mereka sejauh mana, mereka memperjuangkan kedaulatan rakyat NTT. Sehingga persepsi publik akan dibangun dengan sendirinya baik ditilik dari visi misi calon gubernur nantinya maupun ditilik dari berbagai aspek tentang si calon. Berpikir integral seperti inilah, kita bisa melihat dan menelaah pemimpin NTT yang tepat kedepannya. Terutama masyarakat NTT harus bisa membedakan fungsi eksekutif maupun legisltif, kebijakan bupati maupun maupun gubernur, dengan ruang yang mereka miliki terhadap kebijakan yang diambil. Kesan inilah yang didenungkan masyarakat NTT supaya publik dicerahkan bagaimana fungsi eksekutif dan legislatif maupun latar belakang lainya dari rekam jejak sang calon itu beda dan begitu pula dengan kebijakan yang diambil untuk masyarakat agar publik mengalami tidak mengalami " kegagalan" pesepsi pasca pilgub. Dan bagaimana visi misi si calon bisa diterima akal sehat sesuai konteks NTT, utama kebutuhan masyarakat NTT.

Kegagalan persepsi pasca pilgub sesuatu hal yang sungguh menyesatkan. Dalam ilmu komunikasi,ada beberapa faktor yang mempengaruhi kegagalan persepsi antara lain:

Pertama, Kesalahan Atribusi
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik seseorang, karena faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka. Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna pesan atau maksud perilaku si pembicara atribusi kita juga keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor internal, padahal faktor eksternal-lah yang menyebabkannya, atau sebaliknya kita menduga faktor eksternal yang menggerakkan seseorang, padahal faktor internal-lah yang membangkitkan perilakunya.Salah satu sumber kesalahan atribusi lainnya adalah pesan yang dipersepsi tidak utuh atau tidak lengkap, sehingga kita berusaha menafsirkan pesan tersebut dengan menafsirkan sendiri kekurangannya, atau mengisi kesenjangan dan mempersepsi rangsangan atau pola yang tidak lengkap itu sebagai lengkap.

Kedua, Efek Halo. 
Kesalahan persepsi yang disebut efek halo (hallo effects) merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk suatu kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Efek halo ini memang lazim dan berpengaruh kuat sekali pada diri kita dalam menilai orang-orang yang bersangkutan. Bila kita sangat terkesan oleh seseorang, karena kepemimpinannya atau keahliannya dalam suatu bidang, kita cenderung memperluas kesan awal kita. Bila ia baik dalam satu hal, maka seolah-olah ia pun baik dalam hal lainnya.Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan. Para pakar menyebut hal itu sebagai “hukum keprimaan” (law of primacy).

Ketiga, Stereotif.
Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarakan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang dan objek-objek ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang dianggap sesuai, alih-alih berdasarkan karakteristik individual mereka.Contoh stereotip ini banyak sekali, misalnya:Laki-laki berpikir logis,wanita bersikap emosional dan lain sebagainya

Pada umumnya, stereotip bersifat negatif. Stereotip ini tidaklah berbahaya sejauh kita simpan dalam kepala kita. Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip ini diaktifkan dalam hubungan manusia. Apa yang kita persepsi sangat dipengaruhi oleh apa yang anda harapkan. Ketika anda mengharapkan orang lain berperilaku tertentu, anda mungkin mengkomunikasikan pengharapan kita kepada mereka dengan cara-cara yang sangat halus, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.

Keempat, Prasangka.
Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan prasangka, seperti Donald Edgar dan Joe R. Fagin. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi prasangka ini konsekuensi dari stereotip, dan lebih teramati daripada stereotip. Menurut Ian Robertson, pikiran berprasangka selalu menggunakan citra mental yang kaku yang meringkas apapun yang dipercayai sebagai khas suatu kelompok. Citra demikian disebut stereotip.

Meskipun kita cenderung menganggap prasangka berdasarkan suatu dekotomi, yakni berprasangka atau tidak berprasangka, lebih bermanfaat untuk menganggap prasangka ini sebagai bervariasi dalam suatu rentang dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Sebagaimana stereotip, prasangka ini alamiah dan tidak terhindarkan. Pengguanaan prasangka memungkinkan kita merespon lingkungan secara umum, sehingga terlalu menyederhanakan masalah.

Kelima,Gegar Budaya.
Menurut Kalvero Oberg, gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda yang sudah dikenal dan simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmamapuan menyesuaikan diri (personality mal-adjustment) yang merupakan suatu reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Sedangkan menurut P. Harris dan R. Moran, gegar budaya adalah suatu trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang baru dan berbeda karena harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai budaya dan pengharapan baru, sementara nilai budaya dan pengharapan budaya lama tidak lagi sesuai.

Dalam ruang lingkup Pilgub NTT tahun 2013, kegagalan persepsi tersebut kian mencuat. Dalam membagun persepsi, kita bisa memetakan persepsi berkualitas atau tidak. Ketika kita memetakan dalam ruang pikiran, menjelang pilkada dengan lima point kegagalan persepsi calon maupun tim sukses masing calon akan muncul dengan sendiri, persepsi sesungguhnya antara kebohongan dan kebenaran persepsi. Contoh, masih banyak masyarakat yang terkontaminasi dengan kesukukuaan atau  agama dalam memilih calon pemimpin baik bupati, maupun gubernur.

Kegagalan persepsi ini retan sekali mempengaruhi pola pikir masyarakat dimana saat Pilgub NTT 2013, Benny K. Harman dipanggil KPK untuk meminta keterangan bukan saksi apalagi tersangka yang riuh di telinga publik dan pada saat itu moment Pilgub. Dan menyebar virus di masyarakat seakan akan kalau dipanggil KPK berarti koruptor. Hal ini,  harus diketahui masyrakat NTT untuk membedakan tersangka, terdakwa dan saksi atau hanya meminta keterangan (membuka jalan) supaya jangan dipelintir. Alhasil Benny Harman aman-aman saja dan beliau orang yang taat hukum dan sangat menghormati hukum. Dan Pilgub 2018 semoga publik bisa menilai, dan memastikan secara baik, siapa pemimpin yang layak menjadi gubernur NTT akan datang.

Dan ini semua datang dari sebuah analisis panjang dan persepsi yang berpatokan pada nilai kebenaran,agar isi pesan (content) tidak mengesampingkan pesan sesungguhnya yakni bonum publicum(kebahagian masyarakat).

Untuk mencapai pada kesimpulan akhir,kegagalan persepsi pasca pilkada yakni Pertama, sensasi(asensi),dimana Informasi yang kita tangkap dari proses melihat, mencium, mendengar, merasakan, dan meraba tersebut kita proses kembali untuk dapat menghasilkan persepsi terhadap sesuatu. Kedua, Persepsi Bersifat Selektif, karena, pada dasarnya melalui indera kita, setiap saat diri kita ini dirangsang dengan berjuta rangsangan. Jika kita harus memberikan tafsiran atas semua rangsangan itu, maka kita ini bisa menjadi gila. Karena itu, kita dituntut untuk mengatasi kerumitan tersebut dengan memperhatikan hal-hal yang menarik bagi kita. Atensi kita pada dasarnya merupakan faktor utama dalam menentukan seleksi atas rangsangan yang masuk ke dalam diri kita.

Ketiga, Persepsi Bersifat Dugaan, Karena pada dasarnya data yang kita peroleh melalui penginderaan tidak pernah lengkap, makasering kita melakukan dugaan atau langsung  melakukan penyimpulan. Coba perhatikan gambar apa yang bisa dibuat dengan ketiga titik dan keempat titik berikut ini.

Keempat, Persepsi Bersifat Evaluatif,artinnya, tidak sedikit orang beranggapan bahwa apa yang mereka persepsikan sebagai sesuatu yang nyata. Artinya, perasaan seseorang sering mempengaruhi persepsinya, padahal hal tersebut bukanlah sesuatu yang objektif. Kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman masa lalu dan kepentingan subjektif kita sendiri. Karena itu persepsi bersifat evaluatif; merupakan proses kognitif yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai dan pengharapan dengan memaknai objek persepsi itu sendiri.
                                                       
Kelima,Persepsi Bersifat Kontekstual,artinya, dari setiap peristiwa komunikasi, seseorang selalu dituntut untuk mengorganisasikan rangsangan menjadi suatu persepsi. Konteks nampaknya berpengaruh kuat atas persepsi yang terbentuk dalam diri seseorang.Meskipun sesungguhnya banyak informasi yang kita perlukan untuk melakukan persepsi terhadap orang lain, namun paling tidak ada tiga jenis informasi terpenting yang perlu kita ketahui, yaitu tujuan orang tersebut, kondisi internalnya (psikologis), dan kesamaan antara kita dengan orang tersebut. Mempersepsi tujuan orang lain memiliki beberapa arti bagi kita dalam berkomunikasi. Adalah hal yang tidak mungkin bagi kita untuk secara nyata mengamati kondisi internal orang lain.

Namun melalui pengamatan terhadap perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang tersebut.Ada anggapan bahwa elemen non-verbal dari perilaku merupakan refleksi yang paling akurat dari perasaan atau kondisi internal seseorang. Sementara itu, adanya kesamaan antara kita dengan orang yang kita ajak berkomunikasi akan mendorong rasa saling menyukai. Keadaan semacam ini akan membantu kita untuk merasa lebih nyaman untuk melanjutkan komunikasi.

Menjelang pilgub atau pasca pilgub, kegagalan persepsi publik sangat rentan sekali "mendokrin" pikiran masyarakat.

Di NTT  pasca Pilgub 2013, dimana ada salah satu calon sebut saja DR. Benny K. Harman, dipanggil KPK untuk diminta keterangan pada waktu itu. Di mata publik dengan propaganda politik oleh lawan politik seakan-akan bahwa, kalau dipanggil KPK berarti aktor korupsi. Pada hal, Benny Harman dipanggil KPK sebagai hanya diminta keterangan  bukan terdakwa apalagi tersangka. Sehingga ini memuluskan rencana lawan politik ini menjatuhkan lawan politik dengan melakukn pembohongan publik seara masif.

Untuk itu, masyarakat harus butuh pencerahan dan edukasi jangan sampai terdokrin dengan pikiran liar aktor tertentu yang tidak melalui kajian, tetapi sekedar estimasi. Masyarakat dituntut untuk memilih pemimpin NTT ke depan dengan jeli seiring dengan visi misi masing- masing calon secara baik dan benar, sehingga pemimpin kita harapkan dapat tercapai untuk kemajuan masyarakat NTT secara keseluruhan.

Stempel dosa dan stigmatisasi kemiskinan, darurat korupsi maupun berbagai masalah yang kian menggerogoti NTT selama ini, diminimalisir dengan menentukan pemimpin akan datang yang betul-betul visi dan misinya tepat sasar dalam membangun NTT. Karena pemimpin yang diharapkan masyarakat NTT adalah pemimpin yang mau keluar dari stigmatisasi di atas.

Penulis Febri Edo
(Generasi Milenial/Zaman Now)

Item Reviewed: Testimoni Soal BKH, Menjawab Persepsi Publik Rating: 5 Reviewed By: FEBRI EDO