(Ket foto: Cyprian Guntur)
Beberapa hari lalu kita dihentakkan dengan sebuah berita yang menimpa salah satu konsumen di SPBU di Mena Ruteng, Manggarai Flores. Diberitakan bahwa konsumen bernama Irenius Suria dibentak karyawan SPBU setempat saat dirinya hendak mengisi bensin motornya. Modusnya sederhana, Iren sapaan Irenius Suria, dibentak petugas SPBU saat dirinya memohon untuk melihat angka-angka yang bergerak argo/alat monitor pengisi bahan bakar. Merasa dirinya diperlakukan tidak adil, Iren mempersoalkan hal ini. Atas informasi dari Iren Jakportal.com akhirnya melansir berita ini (www.jakportal.com/2016/09). Gambar dari Jakportal.com.
Berita ini menuai tanggapan beragam dari para netizen di media social seperti facebook dan whatShap. Account FB atas nama Emanuel Juniardo Polce berkomentar, ‘Ini harus ditindaklanjuti, memang betul sekali pelayanan SPBU ini kurang maksimal. Bahkan ketika kita bilang mengisi full sering kita bayar lebih’. Account FB atas nama Bung Marsy menulis, ‘Wow…hebat juga nih, kayaknya seru. Hal ini perlu di perjelas lagi, tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena persoalan yang kemudian harus diatasi oleh pihak pemerintah kabupaten Manggarai’. Selanjutnya account Leonardus Nyoman merespon, ‘Saya juga pernah diperlakukan seperti itu, servicenya memang kurang bagus.’ Masih banyak komentar lainnya yang intinya mempersoalkan pelayanan para petugas SPBU di Mena Ruteng. Berita ini menginspirasi penulis untuk merefleksikan dan menganalisis lebih lanjut.
Kewajiban petugas SPBU.
Para petugas yang ditempatkan di SPBU adalah representasi dari Perusahaan Pertamina. Apapun yang mereka hadapi dan lakukan di SPBU tentu saja mengatasnamakan perusahaan. Sebagai karyawan, tentu saja sebelum menjalankan tugasnya mereka telah dilatih untuk memahami code of conduct dan Standard operational Procedure perusahaan. Kepada mereka telah dibekali dengan berbagai keterampilan dan kecakapan terkait dengan pelayanan yang professional. Mereka direkrut dan selanjutnya dipilih dari sekian banyak pelamar untuk bekerja di Perusahaan itu. Dari mereka dituntut untuk bersikap santun, sopan, ramah dan jujur kepada konsumen. Tindakan para petugas SPBU di Mena Ruteng yang tidak sesuai dengan aturan perusahaan mestinya mendapat perhatian serius baik dari perusahaan yang menempatkan mereka maupun pemerintah kabupaten Manggarai.
Hati-hati dengan penipuan di SPBU
Beragam peluang penipuan oleh petugas di SPBU bisa saja terjadi. Baik secara internal perusahaan sendiri maupun dengan konsumen. Yang saya lukiskan di sini adalah penipuan berkaitan dengan hak konsumen. Penipuan secara internal itu adalah hak perusahaan untuk menelusurinya lebih lanjut. Kasus yang menimpa Iren adalah salah satu contohnya. Ada juga modus penipuan lain, sebagaimana yang dihadapi penulis sendiri.
Berikut kisahnya. Pada suatu saat, penulis mengisi bensin di sebuah SPBU. Seperti biasanya sebelum mengisi bahan bakar di kendaraan kita, petugas SPBU bertanya, ‘mau isi berapa pak’? Ada 2 alternatif jawaban kita, antara jumlah liter atau jumlah uang. Selanjutnya petugas SPBU memberitahukan kita, ‘dari nol ya pak? Reaksi kita biasanya mengangguk, sembari memperhatikan jalannya argo atau jumlah angka nominal uang dan angka liter di monitor SPBU. Saat petugas SPBU mengisi bahan bakar saya melihat argonya berjalan lancar namun sangat cepat. Saking cepatnya itu, bukannya argo berjalan, malah berkedip-kedip dan angkanya hanya bergaris-garis. Sebagai konsumen, tahukan Anda mengapa demikian? Sebagai seorang yang pernah meneliti pengisian bahan bakar minyak di SPBU saya memastikan bahwa ini merupakan modus penipuan. Mengapa? Berikut adalah modus penipuan oleh petugas SPBU yang bisa saja sudah, sedang dan akan menimpa konsumen lainnya.
Pertama, Argo berjalan sangat cepat. Untuk kita semua ketahui, Argo yang berjalan terlalu cepat itu tidak bagus, karena yang keluar itu hanya angin. Selisihnya bisa 2-5 liter. Kalau mengisi bahan bakar untuk kendaraan berjenis motor tentu saja tidak terasa, namun jika isi bahan bakar untuk kendaraan mobil, bisa dibayangkan konsumen telah mengalami kerugian sekian ribu bahkan puluhan ribu rupiah. Untuk mengatasi ini, mintalah para petugas di SPBU untuk memperlambat jalannya argo. Dengan demikian kita akan melihat angka-angka yang sedang berjalan. Namun waspadalah, sebab petugas SPBU bisa berkelit dengan alasan, masih banyak kendaraan yang antri di belakang kita. Ingat, ini hanya salah satu trik mereka untuk menipu.
Kedua, Gagang yang dipegang itu juga tidak bagus. Mengapa? Karena para petugas SPBU bisa mengatur speed atau kecepatan semprotan bahan bakarnya. Untuk kita ketahui, speed itu terdiri dari 3 gigi yaitu gigi 1, gigi 2 dan gigi 3. Makin tinggi giginya, makin cepat semprotan bahan bakarnya. Gigi 1 biasanya yang keluar bahan bakar semua, gigi 2 yang keluar bahan bakar dan campur angin dan gigi 3 lebih banyak angin keluar daripada bahan bakarnya bahkan semuanya angin. Untuk mengatasi ini, konsumen jangan segan-segan meminta petugas SPBU untuk melapaskan nozzle atau pegangannya dan mengunci di gigi 1.
Ketiga, Menarik lalu melepas gun/pelatuk. Perhatikan dengan seksama saat petugas memegang dan melepas gun (sejenis pelatuk pada senjata) saat mengisi bahan bakar di kendaraan Anda. Idealnya petugas melepaskan nozzle-nya dan mengunci speed-nya di posisi tertentu. Namun yang terjadi bisanya mereka memegang nozzle lalu beberapa kali menarik dan melepaskan pelatuknya. Waspadalah, sebab di sinilah akan terjadi kecurangan. Kecurangan terletak pada tidak stabilnya semprotan bahan bakar ke tangki kendaraan Anda. Oleh keran itu mintalah petugas SPBU untuk menguncinya di posisi 1.
Nomor 1-3 sudah dijelaskan sebelunya. Sekarang perhatikan nomor 4 & 5. Ini merupakan sensor otomatis. Pernah perhatikan nozzle yang lagi mengisi bahan bakar ke tangki mobil tetapi dilepas oleh petugasnya? Ketika tangki mobil hampir penuh, nozzlenya berbunyi 'jeglek' sendiri. Itu sebagai isyarat karena sensor ini mendeteksi fluida yang sudah mencapai mulut nozzle (lihat gambar 2a & 2b) dan aliran fluida otomatis berhenti, yang artinya bahan bakar di tangki mobil hampir penuh. Makanya setelah itu petugasnya memegang lagi nozzle itu sambil tetap mengisi pelan-pelan sampai benar-benar penuh. Nomor 10 berfungsi mengatur speed fluida yg mengalir di nozzle, perhatikan di bawahnya ada metal sebagai pengunci speednya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Hak konsumen.
Kejadian yang menimpa teman kita Iren dan pengalaman penulis sendiri, bukan tidak mungkin sudah, sedang dan akan dihadapi oleh konsumen. Kasus-kasus ini menjadi early warning (peringatan dini) bagi kita semua untuk selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan modus penipuan yang menimpa kita. Sebagai konsumen, Anda punya hak untuk mengadu setiap modus penipuan itu. Ketika suatu saat Anda menghadapi perlakuan tidak adil seperti ini, sebaiknya didiskusikan dengan petugas SPBU. Saat petugas SPBU tidak meladeni kita bahkan diperlakukan kasar sebagaimana dihadapi oleh teman kita Iren, jangan sungkan-sungkan melaporkan ke atasannya untuk diselesaikan secara baik dan mengedepankan rasa kekeluargaan. Jika petugas di atasnya tidak gubris dengan pengaduan kita, maka barulah kita melaporkanya ke pihak berwajib. Ingat, dengan demikian kita sedang menyelamatkan sekian banyak korban yang mungkin sudah,
Hati-hati dengan Kecurangan Saat Mengisi BBM di SPBU
Beberapa hari lalu kita dihentakkan dengan sebuah berita yang menimpa salah satu konsumen di SPBU di Mena Ruteng, Manggarai Flores. Diberitakan bahwa konsumen bernama Irenius Suria dibentak karyawan SPBU setempat saat dirinya hendak mengisi bensin motornya. Modusnya sederhana, Iren sapaan Irenius Suria, dibentak petugas SPBU saat dirinya memohon untuk melihat angka-angka yang bergerak argo/alat monitor pengisi bahan bakar. Merasa dirinya diperlakukan tidak adil, Iren mempersoalkan hal ini. Atas informasi dari Iren Jakportal.com akhirnya melansir berita ini (www.jakportal.com/2016/09). Gambar dari Jakportal.com.
Berita ini menuai tanggapan beragam dari para netizen di media social seperti facebook dan whatShap. Account FB atas nama Emanuel Juniardo Polce berkomentar, ‘Ini harus ditindaklanjuti, memang betul sekali pelayanan SPBU ini kurang maksimal. Bahkan ketika kita bilang mengisi full sering kita bayar lebih’. Account FB atas nama Bung Marsy menulis, ‘Wow…hebat juga nih, kayaknya seru. Hal ini perlu di perjelas lagi, tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena persoalan yang kemudian harus diatasi oleh pihak pemerintah kabupaten Manggarai’. Selanjutnya account Leonardus Nyoman merespon, ‘Saya juga pernah diperlakukan seperti itu, servicenya memang kurang bagus.’ Masih banyak komentar lainnya yang intinya mempersoalkan pelayanan para petugas SPBU di Mena Ruteng. Berita ini menginspirasi penulis untuk merefleksikan dan menganalisis lebih lanjut.
Kewajiban petugas SPBU.
Para petugas yang ditempatkan di SPBU adalah representasi dari Perusahaan Pertamina. Apapun yang mereka hadapi dan lakukan di SPBU tentu saja mengatasnamakan perusahaan. Sebagai karyawan, tentu saja sebelum menjalankan tugasnya mereka telah dilatih untuk memahami code of conduct dan Standard operational Procedure perusahaan. Kepada mereka telah dibekali dengan berbagai keterampilan dan kecakapan terkait dengan pelayanan yang professional. Mereka direkrut dan selanjutnya dipilih dari sekian banyak pelamar untuk bekerja di Perusahaan itu. Dari mereka dituntut untuk bersikap santun, sopan, ramah dan jujur kepada konsumen. Tindakan para petugas SPBU di Mena Ruteng yang tidak sesuai dengan aturan perusahaan mestinya mendapat perhatian serius baik dari perusahaan yang menempatkan mereka maupun pemerintah kabupaten Manggarai.
Hati-hati dengan penipuan di SPBU
Beragam peluang penipuan oleh petugas di SPBU bisa saja terjadi. Baik secara internal perusahaan sendiri maupun dengan konsumen. Yang saya lukiskan di sini adalah penipuan berkaitan dengan hak konsumen. Penipuan secara internal itu adalah hak perusahaan untuk menelusurinya lebih lanjut. Kasus yang menimpa Iren adalah salah satu contohnya. Ada juga modus penipuan lain, sebagaimana yang dihadapi penulis sendiri.
Berikut kisahnya. Pada suatu saat, penulis mengisi bensin di sebuah SPBU. Seperti biasanya sebelum mengisi bahan bakar di kendaraan kita, petugas SPBU bertanya, ‘mau isi berapa pak’? Ada 2 alternatif jawaban kita, antara jumlah liter atau jumlah uang. Selanjutnya petugas SPBU memberitahukan kita, ‘dari nol ya pak? Reaksi kita biasanya mengangguk, sembari memperhatikan jalannya argo atau jumlah angka nominal uang dan angka liter di monitor SPBU. Saat petugas SPBU mengisi bahan bakar saya melihat argonya berjalan lancar namun sangat cepat. Saking cepatnya itu, bukannya argo berjalan, malah berkedip-kedip dan angkanya hanya bergaris-garis. Sebagai konsumen, tahukan Anda mengapa demikian? Sebagai seorang yang pernah meneliti pengisian bahan bakar minyak di SPBU saya memastikan bahwa ini merupakan modus penipuan. Mengapa? Berikut adalah modus penipuan oleh petugas SPBU yang bisa saja sudah, sedang dan akan menimpa konsumen lainnya.
Pertama, Argo berjalan sangat cepat. Untuk kita semua ketahui, Argo yang berjalan terlalu cepat itu tidak bagus, karena yang keluar itu hanya angin. Selisihnya bisa 2-5 liter. Kalau mengisi bahan bakar untuk kendaraan berjenis motor tentu saja tidak terasa, namun jika isi bahan bakar untuk kendaraan mobil, bisa dibayangkan konsumen telah mengalami kerugian sekian ribu bahkan puluhan ribu rupiah. Untuk mengatasi ini, mintalah para petugas di SPBU untuk memperlambat jalannya argo. Dengan demikian kita akan melihat angka-angka yang sedang berjalan. Namun waspadalah, sebab petugas SPBU bisa berkelit dengan alasan, masih banyak kendaraan yang antri di belakang kita. Ingat, ini hanya salah satu trik mereka untuk menipu.
Kedua, Gagang yang dipegang itu juga tidak bagus. Mengapa? Karena para petugas SPBU bisa mengatur speed atau kecepatan semprotan bahan bakarnya. Untuk kita ketahui, speed itu terdiri dari 3 gigi yaitu gigi 1, gigi 2 dan gigi 3. Makin tinggi giginya, makin cepat semprotan bahan bakarnya. Gigi 1 biasanya yang keluar bahan bakar semua, gigi 2 yang keluar bahan bakar dan campur angin dan gigi 3 lebih banyak angin keluar daripada bahan bakarnya bahkan semuanya angin. Untuk mengatasi ini, konsumen jangan segan-segan meminta petugas SPBU untuk melapaskan nozzle atau pegangannya dan mengunci di gigi 1.
Perhatikan gambar nozzle di atas :
Speed 1 : kecepatan mengalir bahan bakarnya rendah
Speed 2 : Kecepatan mengalirnya sedang
Speed 3 : Kecepatan mengalirnya tinggi
Ketiga, Menarik lalu melepas gun/pelatuk. Perhatikan dengan seksama saat petugas memegang dan melepas gun (sejenis pelatuk pada senjata) saat mengisi bahan bakar di kendaraan Anda. Idealnya petugas melepaskan nozzle-nya dan mengunci speed-nya di posisi tertentu. Namun yang terjadi bisanya mereka memegang nozzle lalu beberapa kali menarik dan melepaskan pelatuknya. Waspadalah, sebab di sinilah akan terjadi kecurangan. Kecurangan terletak pada tidak stabilnya semprotan bahan bakar ke tangki kendaraan Anda. Oleh keran itu mintalah petugas SPBU untuk menguncinya di posisi 1.
Beberapa bagian penting yang perlu diketahui konsumen
Perhatikan gambar berikut ini :
Penjelasan gambar :
Nomor 1-3 sudah dijelaskan sebelunya. Sekarang perhatikan nomor 4 & 5. Ini merupakan sensor otomatis. Pernah perhatikan nozzle yang lagi mengisi bahan bakar ke tangki mobil tetapi dilepas oleh petugasnya? Ketika tangki mobil hampir penuh, nozzlenya berbunyi 'jeglek' sendiri. Itu sebagai isyarat karena sensor ini mendeteksi fluida yang sudah mencapai mulut nozzle (lihat gambar 2a & 2b) dan aliran fluida otomatis berhenti, yang artinya bahan bakar di tangki mobil hampir penuh. Makanya setelah itu petugasnya memegang lagi nozzle itu sambil tetap mengisi pelan-pelan sampai benar-benar penuh. Nomor 10 berfungsi mengatur speed fluida yg mengalir di nozzle, perhatikan di bawahnya ada metal sebagai pengunci speednya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Hak konsumen.
Kejadian yang menimpa teman kita Iren dan pengalaman penulis sendiri, bukan tidak mungkin sudah, sedang dan akan dihadapi oleh konsumen. Kasus-kasus ini menjadi early warning (peringatan dini) bagi kita semua untuk selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan modus penipuan yang menimpa kita. Sebagai konsumen, Anda punya hak untuk mengadu setiap modus penipuan itu. Ketika suatu saat Anda menghadapi perlakuan tidak adil seperti ini, sebaiknya didiskusikan dengan petugas SPBU. Saat petugas SPBU tidak meladeni kita bahkan diperlakukan kasar sebagaimana dihadapi oleh teman kita Iren, jangan sungkan-sungkan melaporkan ke atasannya untuk diselesaikan secara baik dan mengedepankan rasa kekeluargaan. Jika petugas di atasnya tidak gubris dengan pengaduan kita, maka barulah kita melaporkanya ke pihak berwajib. Ingat, dengan demikian kita sedang menyelamatkan sekian banyak korban yang mungkin sudah, sedang dan akan mereka alami. Sekian.
Biodata singkat Penulis :
Nama : Siprianus Guntur
Tamat : Pasca Sarjana di Sekolah Tinggi Fisafat&Theologi “Fajar Timur” Abepura-Papua
Tamat : S1 tahun 2000, Pasca Sarjana : tahun 2002.
Profesi saat ini : Sewasta, Pengamat politik, Sosial-budaya
Alamat Domisili: Sentani-Jayapura-Provinsi Papua
No kontak : 0852 4455 3279 (juga untuk WA)
Email : cgunturnew@yahoo.com/sipriguntur@gmail.com
Tamat : Pasca Sarjana di Sekolah Tinggi Fisafat&Theologi “Fajar Timur” Abepura-Papua
Tamat : S1 tahun 2000, Pasca Sarjana : tahun 2002.
Profesi saat ini : Sewasta, Pengamat politik, Sosial-budaya
Alamat Domisili: Sentani-Jayapura-Provinsi Papua
No kontak : 0852 4455 3279 (juga untuk WA)
Email:cgunturnew@yahoo.com/sipriguntur@gmail.com
Beberapa hari lalu kita dihentakkan dengan sebuah berita yang menimpa salah satu konsumen di SPBU di Mena Ruteng, Manggarai Flores. Diberitakan bahwa konsumen bernama Irenius Suria dibentak karyawan SPBU setempat saat dirinya hendak mengisi bensin motornya. Modusnya sederhana, Iren sapaan Irenius Suria, dibentak petugas SPBU saat dirinya memohon untuk melihat angka-angka yang bergerak argo/alat monitor pengisi bahan bakar. Merasa dirinya diperlakukan tidak adil, Iren mempersoalkan hal ini. Atas informasi dari Iren Jakportal.com akhirnya melansir berita ini (www.jakportal.com/2016/09). Gambar dari Jakportal.com.
Berita ini menuai tanggapan beragam dari para netizen di media social seperti facebook dan whatShap. Account FB atas nama Emanuel Juniardo Polce berkomentar, ‘Ini harus ditindaklanjuti, memang betul sekali pelayanan SPBU ini kurang maksimal. Bahkan ketika kita bilang mengisi full sering kita bayar lebih’. Account FB atas nama Bung Marsy menulis, ‘Wow…hebat juga nih, kayaknya seru. Hal ini perlu di perjelas lagi, tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena persoalan yang kemudian harus diatasi oleh pihak pemerintah kabupaten Manggarai’. Selanjutnya account Leonardus Nyoman merespon, ‘Saya juga pernah diperlakukan seperti itu, servicenya memang kurang bagus.’ Masih banyak komentar lainnya yang intinya mempersoalkan pelayanan para petugas SPBU di Mena Ruteng. Berita ini menginspirasi penulis untuk merefleksikan dan menganalisis lebih lanjut.
Kewajiban petugas SPBU.
Para petugas yang ditempatkan di SPBU adalah representasi dari Perusahaan Pertamina. Apapun yang mereka hadapi dan lakukan di SPBU tentu saja mengatasnamakan perusahaan. Sebagai karyawan, tentu saja sebelum menjalankan tugasnya mereka telah dilatih untuk memahami code of conduct dan Standard operational Procedure perusahaan. Kepada mereka telah dibekali dengan berbagai keterampilan dan kecakapan terkait dengan pelayanan yang professional. Mereka direkrut dan selanjutnya dipilih dari sekian banyak pelamar untuk bekerja di Perusahaan itu. Dari mereka dituntut untuk bersikap santun, sopan, ramah dan jujur kepada konsumen. Tindakan para petugas SPBU di Mena Ruteng yang tidak sesuai dengan aturan perusahaan mestinya mendapat perhatian serius baik dari perusahaan yang menempatkan mereka maupun pemerintah kabupaten Manggarai.
Hati-hati dengan penipuan di SPBU
Beragam peluang penipuan oleh petugas di SPBU bisa saja terjadi. Baik secara internal perusahaan sendiri maupun dengan konsumen. Yang saya lukiskan di sini adalah penipuan berkaitan dengan hak konsumen. Penipuan secara internal itu adalah hak perusahaan untuk menelusurinya lebih lanjut. Kasus yang menimpa Iren adalah salah satu contohnya. Ada juga modus penipuan lain, sebagaimana yang dihadapi penulis sendiri.
Berikut kisahnya. Pada suatu saat, penulis mengisi bensin di sebuah SPBU. Seperti biasanya sebelum mengisi bahan bakar di kendaraan kita, petugas SPBU bertanya, ‘mau isi berapa pak’? Ada 2 alternatif jawaban kita, antara jumlah liter atau jumlah uang. Selanjutnya petugas SPBU memberitahukan kita, ‘dari nol ya pak? Reaksi kita biasanya mengangguk, sembari memperhatikan jalannya argo atau jumlah angka nominal uang dan angka liter di monitor SPBU. Saat petugas SPBU mengisi bahan bakar saya melihat argonya berjalan lancar namun sangat cepat. Saking cepatnya itu, bukannya argo berjalan, malah berkedip-kedip dan angkanya hanya bergaris-garis. Sebagai konsumen, tahukan Anda mengapa demikian? Sebagai seorang yang pernah meneliti pengisian bahan bakar minyak di SPBU saya memastikan bahwa ini merupakan modus penipuan. Mengapa? Berikut adalah modus penipuan oleh petugas SPBU yang bisa saja sudah, sedang dan akan menimpa konsumen lainnya.
Pertama, Argo berjalan sangat cepat. Untuk kita semua ketahui, Argo yang berjalan terlalu cepat itu tidak bagus, karena yang keluar itu hanya angin. Selisihnya bisa 2-5 liter. Kalau mengisi bahan bakar untuk kendaraan berjenis motor tentu saja tidak terasa, namun jika isi bahan bakar untuk kendaraan mobil, bisa dibayangkan konsumen telah mengalami kerugian sekian ribu bahkan puluhan ribu rupiah. Untuk mengatasi ini, mintalah para petugas di SPBU untuk memperlambat jalannya argo. Dengan demikian kita akan melihat angka-angka yang sedang berjalan. Namun waspadalah, sebab petugas SPBU bisa berkelit dengan alasan, masih banyak kendaraan yang antri di belakang kita. Ingat, ini hanya salah satu trik mereka untuk menipu.
Kedua, Gagang yang dipegang itu juga tidak bagus. Mengapa? Karena para petugas SPBU bisa mengatur speed atau kecepatan semprotan bahan bakarnya. Untuk kita ketahui, speed itu terdiri dari 3 gigi yaitu gigi 1, gigi 2 dan gigi 3. Makin tinggi giginya, makin cepat semprotan bahan bakarnya. Gigi 1 biasanya yang keluar bahan bakar semua, gigi 2 yang keluar bahan bakar dan campur angin dan gigi 3 lebih banyak angin keluar daripada bahan bakarnya bahkan semuanya angin. Untuk mengatasi ini, konsumen jangan segan-segan meminta petugas SPBU untuk melapaskan nozzle atau pegangannya dan mengunci di gigi 1.
Ketiga, Menarik lalu melepas gun/pelatuk. Perhatikan dengan seksama saat petugas memegang dan melepas gun (sejenis pelatuk pada senjata) saat mengisi bahan bakar di kendaraan Anda. Idealnya petugas melepaskan nozzle-nya dan mengunci speed-nya di posisi tertentu. Namun yang terjadi bisanya mereka memegang nozzle lalu beberapa kali menarik dan melepaskan pelatuknya. Waspadalah, sebab di sinilah akan terjadi kecurangan. Kecurangan terletak pada tidak stabilnya semprotan bahan bakar ke tangki kendaraan Anda. Oleh keran itu mintalah petugas SPBU untuk menguncinya di posisi 1.
Nomor 1-3 sudah dijelaskan sebelunya. Sekarang perhatikan nomor 4 & 5. Ini merupakan sensor otomatis. Pernah perhatikan nozzle yang lagi mengisi bahan bakar ke tangki mobil tetapi dilepas oleh petugasnya? Ketika tangki mobil hampir penuh, nozzlenya berbunyi 'jeglek' sendiri. Itu sebagai isyarat karena sensor ini mendeteksi fluida yang sudah mencapai mulut nozzle (lihat gambar 2a & 2b) dan aliran fluida otomatis berhenti, yang artinya bahan bakar di tangki mobil hampir penuh. Makanya setelah itu petugasnya memegang lagi nozzle itu sambil tetap mengisi pelan-pelan sampai benar-benar penuh. Nomor 10 berfungsi mengatur speed fluida yg mengalir di nozzle, perhatikan di bawahnya ada metal sebagai pengunci speednya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Hak konsumen.
Kejadian yang menimpa teman kita Iren dan pengalaman penulis sendiri, bukan tidak mungkin sudah, sedang dan akan dihadapi oleh konsumen. Kasus-kasus ini menjadi early warning (peringatan dini) bagi kita semua untuk selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan modus penipuan yang menimpa kita. Sebagai konsumen, Anda punya hak untuk mengadu setiap modus penipuan itu. Ketika suatu saat Anda menghadapi perlakuan tidak adil seperti ini, sebaiknya didiskusikan dengan petugas SPBU. Saat petugas SPBU tidak meladeni kita bahkan diperlakukan kasar sebagaimana dihadapi oleh teman kita Iren, jangan sungkan-sungkan melaporkan ke atasannya untuk diselesaikan secara baik dan mengedepankan rasa kekeluargaan. Jika petugas di atasnya tidak gubris dengan pengaduan kita, maka barulah kita melaporkanya ke pihak berwajib. Ingat, dengan demikian kita sedang menyelamatkan sekian banyak korban yang mungkin sudah,
Hati-hati dengan Kecurangan Saat Mengisi BBM di SPBU
Beberapa hari lalu kita dihentakkan dengan sebuah berita yang menimpa salah satu konsumen di SPBU di Mena Ruteng, Manggarai Flores. Diberitakan bahwa konsumen bernama Irenius Suria dibentak karyawan SPBU setempat saat dirinya hendak mengisi bensin motornya. Modusnya sederhana, Iren sapaan Irenius Suria, dibentak petugas SPBU saat dirinya memohon untuk melihat angka-angka yang bergerak argo/alat monitor pengisi bahan bakar. Merasa dirinya diperlakukan tidak adil, Iren mempersoalkan hal ini. Atas informasi dari Iren Jakportal.com akhirnya melansir berita ini (www.jakportal.com/2016/09). Gambar dari Jakportal.com.
Berita ini menuai tanggapan beragam dari para netizen di media social seperti facebook dan whatShap. Account FB atas nama Emanuel Juniardo Polce berkomentar, ‘Ini harus ditindaklanjuti, memang betul sekali pelayanan SPBU ini kurang maksimal. Bahkan ketika kita bilang mengisi full sering kita bayar lebih’. Account FB atas nama Bung Marsy menulis, ‘Wow…hebat juga nih, kayaknya seru. Hal ini perlu di perjelas lagi, tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena persoalan yang kemudian harus diatasi oleh pihak pemerintah kabupaten Manggarai’. Selanjutnya account Leonardus Nyoman merespon, ‘Saya juga pernah diperlakukan seperti itu, servicenya memang kurang bagus.’ Masih banyak komentar lainnya yang intinya mempersoalkan pelayanan para petugas SPBU di Mena Ruteng. Berita ini menginspirasi penulis untuk merefleksikan dan menganalisis lebih lanjut.
Kewajiban petugas SPBU.
Para petugas yang ditempatkan di SPBU adalah representasi dari Perusahaan Pertamina. Apapun yang mereka hadapi dan lakukan di SPBU tentu saja mengatasnamakan perusahaan. Sebagai karyawan, tentu saja sebelum menjalankan tugasnya mereka telah dilatih untuk memahami code of conduct dan Standard operational Procedure perusahaan. Kepada mereka telah dibekali dengan berbagai keterampilan dan kecakapan terkait dengan pelayanan yang professional. Mereka direkrut dan selanjutnya dipilih dari sekian banyak pelamar untuk bekerja di Perusahaan itu. Dari mereka dituntut untuk bersikap santun, sopan, ramah dan jujur kepada konsumen. Tindakan para petugas SPBU di Mena Ruteng yang tidak sesuai dengan aturan perusahaan mestinya mendapat perhatian serius baik dari perusahaan yang menempatkan mereka maupun pemerintah kabupaten Manggarai.
Hati-hati dengan penipuan di SPBU
Beragam peluang penipuan oleh petugas di SPBU bisa saja terjadi. Baik secara internal perusahaan sendiri maupun dengan konsumen. Yang saya lukiskan di sini adalah penipuan berkaitan dengan hak konsumen. Penipuan secara internal itu adalah hak perusahaan untuk menelusurinya lebih lanjut. Kasus yang menimpa Iren adalah salah satu contohnya. Ada juga modus penipuan lain, sebagaimana yang dihadapi penulis sendiri.
Berikut kisahnya. Pada suatu saat, penulis mengisi bensin di sebuah SPBU. Seperti biasanya sebelum mengisi bahan bakar di kendaraan kita, petugas SPBU bertanya, ‘mau isi berapa pak’? Ada 2 alternatif jawaban kita, antara jumlah liter atau jumlah uang. Selanjutnya petugas SPBU memberitahukan kita, ‘dari nol ya pak? Reaksi kita biasanya mengangguk, sembari memperhatikan jalannya argo atau jumlah angka nominal uang dan angka liter di monitor SPBU. Saat petugas SPBU mengisi bahan bakar saya melihat argonya berjalan lancar namun sangat cepat. Saking cepatnya itu, bukannya argo berjalan, malah berkedip-kedip dan angkanya hanya bergaris-garis. Sebagai konsumen, tahukan Anda mengapa demikian? Sebagai seorang yang pernah meneliti pengisian bahan bakar minyak di SPBU saya memastikan bahwa ini merupakan modus penipuan. Mengapa? Berikut adalah modus penipuan oleh petugas SPBU yang bisa saja sudah, sedang dan akan menimpa konsumen lainnya.
Pertama, Argo berjalan sangat cepat. Untuk kita semua ketahui, Argo yang berjalan terlalu cepat itu tidak bagus, karena yang keluar itu hanya angin. Selisihnya bisa 2-5 liter. Kalau mengisi bahan bakar untuk kendaraan berjenis motor tentu saja tidak terasa, namun jika isi bahan bakar untuk kendaraan mobil, bisa dibayangkan konsumen telah mengalami kerugian sekian ribu bahkan puluhan ribu rupiah. Untuk mengatasi ini, mintalah para petugas di SPBU untuk memperlambat jalannya argo. Dengan demikian kita akan melihat angka-angka yang sedang berjalan. Namun waspadalah, sebab petugas SPBU bisa berkelit dengan alasan, masih banyak kendaraan yang antri di belakang kita. Ingat, ini hanya salah satu trik mereka untuk menipu.
Kedua, Gagang yang dipegang itu juga tidak bagus. Mengapa? Karena para petugas SPBU bisa mengatur speed atau kecepatan semprotan bahan bakarnya. Untuk kita ketahui, speed itu terdiri dari 3 gigi yaitu gigi 1, gigi 2 dan gigi 3. Makin tinggi giginya, makin cepat semprotan bahan bakarnya. Gigi 1 biasanya yang keluar bahan bakar semua, gigi 2 yang keluar bahan bakar dan campur angin dan gigi 3 lebih banyak angin keluar daripada bahan bakarnya bahkan semuanya angin. Untuk mengatasi ini, konsumen jangan segan-segan meminta petugas SPBU untuk melapaskan nozzle atau pegangannya dan mengunci di gigi 1.
Perhatikan gambar nozzle di atas :
Speed 1 : kecepatan mengalir bahan bakarnya rendah
Speed 2 : Kecepatan mengalirnya sedang
Speed 3 : Kecepatan mengalirnya tinggi
Ketiga, Menarik lalu melepas gun/pelatuk. Perhatikan dengan seksama saat petugas memegang dan melepas gun (sejenis pelatuk pada senjata) saat mengisi bahan bakar di kendaraan Anda. Idealnya petugas melepaskan nozzle-nya dan mengunci speed-nya di posisi tertentu. Namun yang terjadi bisanya mereka memegang nozzle lalu beberapa kali menarik dan melepaskan pelatuknya. Waspadalah, sebab di sinilah akan terjadi kecurangan. Kecurangan terletak pada tidak stabilnya semprotan bahan bakar ke tangki kendaraan Anda. Oleh keran itu mintalah petugas SPBU untuk menguncinya di posisi 1.
Beberapa bagian penting yang perlu diketahui konsumen
Perhatikan gambar berikut ini :
Penjelasan gambar :
Nomor 1-3 sudah dijelaskan sebelunya. Sekarang perhatikan nomor 4 & 5. Ini merupakan sensor otomatis. Pernah perhatikan nozzle yang lagi mengisi bahan bakar ke tangki mobil tetapi dilepas oleh petugasnya? Ketika tangki mobil hampir penuh, nozzlenya berbunyi 'jeglek' sendiri. Itu sebagai isyarat karena sensor ini mendeteksi fluida yang sudah mencapai mulut nozzle (lihat gambar 2a & 2b) dan aliran fluida otomatis berhenti, yang artinya bahan bakar di tangki mobil hampir penuh. Makanya setelah itu petugasnya memegang lagi nozzle itu sambil tetap mengisi pelan-pelan sampai benar-benar penuh. Nomor 10 berfungsi mengatur speed fluida yg mengalir di nozzle, perhatikan di bawahnya ada metal sebagai pengunci speednya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Hak konsumen.
Kejadian yang menimpa teman kita Iren dan pengalaman penulis sendiri, bukan tidak mungkin sudah, sedang dan akan dihadapi oleh konsumen. Kasus-kasus ini menjadi early warning (peringatan dini) bagi kita semua untuk selalu waspada terhadap berbagai kemungkinan modus penipuan yang menimpa kita. Sebagai konsumen, Anda punya hak untuk mengadu setiap modus penipuan itu. Ketika suatu saat Anda menghadapi perlakuan tidak adil seperti ini, sebaiknya didiskusikan dengan petugas SPBU. Saat petugas SPBU tidak meladeni kita bahkan diperlakukan kasar sebagaimana dihadapi oleh teman kita Iren, jangan sungkan-sungkan melaporkan ke atasannya untuk diselesaikan secara baik dan mengedepankan rasa kekeluargaan. Jika petugas di atasnya tidak gubris dengan pengaduan kita, maka barulah kita melaporkanya ke pihak berwajib. Ingat, dengan demikian kita sedang menyelamatkan sekian banyak korban yang mungkin sudah, sedang dan akan mereka alami. Sekian.
Biodata singkat Penulis :
Nama : Siprianus Guntur
Tamat : Pasca Sarjana di Sekolah Tinggi Fisafat&Theologi “Fajar Timur” Abepura-Papua
Tamat : S1 tahun 2000, Pasca Sarjana : tahun 2002.
Profesi saat ini : Sewasta, Pengamat politik, Sosial-budaya
Alamat Domisili: Sentani-Jayapura-Provinsi Papua
No kontak : 0852 4455 3279 (juga untuk WA)
Email : cgunturnew@yahoo.com/sipriguntur@gmail.com
Tamat : S1 tahun 2000, Pasca Sarjana : tahun 2002.
Profesi saat ini : Sewasta, Pengamat politik, Sosial-budaya
Alamat Domisili: Sentani-Jayapura-Provinsi Papua
No kontak : 0852 4455 3279 (juga untuk WA)
Email:cgunturnew@yahoo.com/sipriguntur@gmail.com

.png)