Custom Search
Hot News
Wednesday, June 8, 2016

Lupa Mengusai Diri

Kadang ada orang tidak menyadari kapan berkuasa dan kapan tidak berkuasa. Dan barangkali ahli psikolog memikirkan hal ini.

Itu namanya dialektika di ruang hampa, artinya nol besar. Kata kata makian ataupun hinaan tidak etis dilontarkan di ruang publik, apalagi yang mengatakan itu, seorang tokoh yang dikenal banyak orang. Dan itu sepertinya sindrom bagi setiap orang yang kemelekatannya kian akut. Perangi itu dengan gagasan dan kekreatifan bukan dengan makian ataupun hinaan.

Dengan kebanykan tokoh mengaggung-agungkan atau sindrom dengan jabatan, status mereka.Tokoh-tokoh yang sindrom dengan kemewahan atau tampuk kekuasaan, saat mereka turun mereka masih terbawa ingatan masa kejayaan mereka dulu, sehingga lupa diri bahkan komentar 'tidak tau diri'.

Bahkan mereka berbagai cara ingin menjatuhkan seseorang dengan konsep by design besar besaran untuk menjatuhkan lawan politik. Bahkan, mungkin karena dendam politik pun terjadi.

Dan itu, kian radiks ada dalam diri setiap orang yang kangen saat mereka berkuasa. Ini seperti modus curhat melempias kegalauan mereka di depan publik.

John W. Watshon (1878-1958), seorang ilmuwan Komunikasi dan dijuluki bapak Behaviorisme di Amerika mengatakan, semua prilaku, termasuk tindakan balasan atau dikenal dengan respon diakibatkan dari adanya ransangan stimulus


Bagaimana berargumentasi yang baik dan benar bahkan, mencerca orang habis habisan.

Mereka lupa kata regenerasi atau periodesasi regenerasi bahkan, tidak pernah introspeksi diri bagaimana saya waktu itu, saat menjabat baik DPR, bupati, walikota maupun gubernur  di daerah yang begitu sindrom dengan kekuasaan mereka yang lalu, saat mereka tidak berkuasa lagi, mereka lantang mengkritik pemerintahan yang berlangsung dengan berlabelkan membawa keadilan rakyat.

Ironisnya, mereka duduk pemerintahan mereka kebanyakan diam bahkan mungkin, ikut andil dalam tindakan merugikan masyarakat, seperti, korupsi maupun aspirasi publik yang tidak ditepatinya.

Contoh SBY yang begitu getol dan konsisten memang. Maksudnya SBY yang mengkritik Kepemrintahan Jokowi yang sindrom dengan kekuasaan dan sebatas modus curhat SBY.

Celotehan SBY di media sosial juga melampaui modus curhat. Sebagai oposisi, Partai Demokrat harus mengkritik. Namun, kritik sebaiknya konseptual supaya ada efek edukatif bagi publik.

Seorang Pengamat Politik Nasional pernah mengatakan,
Kita bangga SBY masih punya ingatan kekuasaan. SBY bukan saja bekas presiden; ia juga ketua umum partai. Namun, kita senang ada memori berkuasa yang terus hidup. Itu baik sebagai energi untuk melakukan kritik yang konstruktif terhadap pemerintah sekarang. Dengan ingatan itu, SBY tahu apa yang sudah dan tak pernah dilakukannya.

"Discovery tentang pengalaman itu bisa jadi bahan kritik yang baik untuk Jokowi. Apa yang baik dari SBY adalah warisan sejarah yang perlu dihargai dan apa yang "lupa" dilakukan SBY, itulah yang diwujudkan Jokowi dengan Kabinet Kerja-nya. Namun, ingatan kekuasaan itu harus dievaluasi supaya tak menjadi "berkuasa dalam ingatan", terus berkuasa, padahal itu hanya dalam ingatan".

Kebanyakan tokoh kita, merasa diri yang paling benar, paling hebat dan paling mengetahui segalanya. Yah kalau diumpamakan seperti Omnivora saja (pemakan segala) ataukah inilah yang digambarkan kaum Leviatan mederat?.

Leviatan adalah monster air besar dan kejam yang disebut dalam buku Alkitab. Penyebutan Leviatan dapat ditemukan dalam kitab Ayub, Mazmur dann Yesaya,  ditambah dengan beberapa doa tradisional  Yahudi dalam penyebutan sebagai naga berkepala tujuh.

Dalam mitologi Ugarit Baal Hadad berkelahi dengan Lotan dan berhasil membunuhnya. Ini dikisahkan sebagai penghacur dan perusak.

Dan diceritakan dalam ajaran Yahudi Allah menghancurkan Leviatan Betina agar tidak berkembangbiak. Leviatan moderat masih tergambar jelas sekarang ini?.

Kalau moralnya saja sudah rusak, bagaimana mungkin apa yang dilakukan atau yang dikatakannya sebuah pembenaran.
Item Reviewed: Lupa Mengusai Diri Rating: 5 Reviewed By: FEBRI EDO