Tragedi Bom Jakarta Vs Divestasi
Freeport.
Oleh Febri Edo
Bukankah
hari ini batas kesempatan Divestasi Freeport?,Ahh,14 Januari,"Tanggal
Serakah".
Berbagai
media baik nasional maupun Internasional memberitakan tragedi bom di Jakarta.Tragedi
bom di Jakarta,mendapat kecaman dari berbagai pihak,baik dalam negeri maupun
luar negeri.Bersamaan dengan batas akhir PT Freeport Indonesia menawarkan
divestasi sahamnya kepada Pemerintah Indonesia, 14 Januari 2016.
Tokoh
yang mengecam ini salah satunya,Ketua PBNU yang mengutuk keras,targedi yang
terjadi.Tidak hanya itu, Perdana Menteri Amerika Serikat,untuk Indonesia, John
Kerry,pemerintah Inggris,dan Pemerintah Hongkong,seperti yang dilangsir
diberbagai media .
Seperti
dilangsir oleh media, Jakarta, CNN
Indonesia, Manajemen PT Freeport Indonesia telah menyerahkan
harga penawaran divestasi 10,64 persen saham senilai US$1,7 miliar kepada
pemerintah di batas waktu terakhir yang jatuh hari ini, Kamis (14/1).
Merujuk
pada PP Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara (Minerba), Freeport wajib melepas sahamnya sebesar 30
persen ke investor nasional karena diklasifikasikan sebagai perusahaan
pertambangan bawah tanah (underground mining).
Tahun ini, Freeport diwajibkan melepas 10,64 persen sahamnya guna menggenapi 9,36 persen yang telah dipegang oleh pemerintah sehingga menjadi 20 persen. Sementara 10 persen sisanya baru masuk masa penawaran divestasi pada 2020.
Tahun ini, Freeport diwajibkan melepas 10,64 persen sahamnya guna menggenapi 9,36 persen yang telah dipegang oleh pemerintah sehingga menjadi 20 persen. Sementara 10 persen sisanya baru masuk masa penawaran divestasi pada 2020.
Bukankah
hari ini batas kesempatan Divestasi Freeport?,Ahh,14 Januari,"Tanggal
Serakah".
14
Januari, PT Freeport Indonesia akhirnya menawarkan 10,64 persen sahamnya kepada
Pemerintah Indonesia. Perusahaan asal Amerika Serikat ini menawarkan sahamnya
senilai 1,7 miliar dolar AS atau setara dengan kurang lebih Rp 23,5 triliun.
Freeport menaksir jumlah keseluruhan nilai sahamnya sebesar 16,2 miliar dolar
AS atau Rp 224,7 triliun.
Ini
sudah masuk dalam kategori “elemen taktis” untuk memepengaruhi pola pikir
masyarakat,ini semua terkait dengan pembangunan sebuah dominasi dan pelestarian
kekuasaan. Tesis ini, saya tuangkan dengan menggunakan dua pendekatan dan
contoh kasus yakni:Analisa Priming
dengan Agenda Setting Theory.
Proses
analisis priming ini lebih berfokus pada sebagian isu dan tidak pada isu
lainya,dan dengan demikian mengubah standar yang digunakan orang untuk
mengevaluasi suatu peristiwa atau orang.
Contoh
kasus :di Amerika (1993),Lyegar dan Simon menyelidiki priming dalam liputan
berita Perang Teluk 1991.Terlihat bahwa selama krisi Teluk,opni kerja luar
negeri Bush lebih kuat berhubungan dengan evaluasi Bush secara keseluruhan
ketimbang kinerja ekonominya.Berbeda fase sebelum krisis,opini kinerja
ekonominya lebih penting dari pada opini kebijakan luar Negeri.
Kedua,dalam Analisis Setting Theory ini
penciptaan kesadaran dan perhatian publik yng menonjol oleh media.Aksioma dalam
teori ini adalah perpindahan kepentingan dalam kata lain,memiliki kemampuan
untuk mentranfer item-item agenda-kepentingan media ke dalam agenda kepentingan
publik.Dalam hal ini,tragedi pemboman di Jakarta dengan adanya Divestasi
Freeport berada pada tanggal yang sama yakni,14 Januari.
Silahkan mengambil kesimpulan. Pemberitaan
bom yang terjadi di Jakarta mendapar respon yang luar biasa bukan hanya publik dalam
negeri,juga luar negeri.Sehingga semua media terperosok masuk dalam ruang
ini.Pertanyaan reflekif, bagaimana dengan Freeport yang pada hari ini,ada
divestasi?.
Hubungan yang sangat kuat antara issue –issue yang dirancang dengan
penilaian mengenai keutamaan isi pernyataan dengan kepentingan politik semata.Dan
mungkin juga kebalikan dengan premis di atas.Untuk itu, ketajaman dalam
menganalsis dan melihat persoalan harus dibutuhkan kejeliaan,jangan sampai
persoalan ini,hanya sebagai moment “kekanak-kanakan” para penguasa.

.png)