Berikut kami publikasikan Tulisan Bung Karno untuk
memperingati 50 tahun wafatnya Karl Marx. Tulisan ini dipublikasi oleh
Bung Karno di Fikiran Ra’jat, 1933. Dimuat kembali dalam rangka
memajukan pengetahuan dan pendidikan politik.
Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx
Oleh: Soekarno
Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx
Oleh: Soekarno
Pada tanggal 5 Mei kemarin, 192 tahun yang lalu terlahir seorang
pemikir terbesar abad 19 dan sekaligus pemimpin terkemuka gerakan kelas
pekerja Internasional, dia adalah Karl Heinrich Marx. Teori ekonomi dan
gagasan politiknya kini masih terus menancapkan pengaruh, dan
terus-menerus menemukan kebenarannya. Untuk itu, bertepatan dengan
kelahiran tokoh besar tersebut, Berdikari Online mengangkat salah satu
tulisan Soekarno, presiden pertama RI dan sekaligus tokoh terkemuka
pembebasan nasional Indonesia di Fikiran Ra’jat, 1933. Tulisan di bawah
ini adalah tulisan Bung karno, berjudul “Memperingati 50 Tahun Wafatnya
Karl Marx. Tulisan ini sangat menjelaskan apresiasi Bung Karno yang
sangat besar kepada Karl Marx.
F.R (Fikiran Ra’jat, ed) nomor yang sekarang ini adalah mendekati 14
Maret 1933. Pada hari itu, maka genap 50 tahun yang lalu, yang Karl Marx
menutup matanya buat selama-lamanya.
Marx dan Marxisme!
Mendengar perkataan ini, -begitulah dulu pernah saya menulis-,
mendengar perkataan ini, maka tampak sebagai suatu bayangan di
penglihatan kita gambarnya berduyun-duyun kaum yang mudlarat dari segala
bangsa dan negeri, pucat muka dan kurus badan, pakaian berkoyak-koyak;
tampak pada angan kita dirinya pembela dan kampiun si mudlarat tadi,
seorang ahli pikir yang ketetapan hatinya dan keinsyafan akan
kebiasannya mengingatkan kita pada pahlawan dari dongeng-dongeng kuno
Jermania yang sakti dan tiada terkalahkan itu, suatu manusia yang
“geweldig”, yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama “datuk” pergerakan
kaum buruh, yakni Heinrich Karl Marx.
Dari muda sampai wafatnya, manusia yang hebat ini tiada
berhenti-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miskin,
bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara, dan bagaimana jalannya
mereka itu akan mendapat kemenangan: tiada kesal dan capainya (lelahnya,
ed.) ia bekerja dan berusaha untuk pembelaan itu: selagi duduk diatas
kursinya, dimuka meja tulisnya, begitulah ia pada 14 Maret 1883, -lima
puluh tahun yang lalu (tulisan ini dimuat pada tahun 1933, ed.)-,
melepaskan nafasnya yang penghabisan.
Seolah-olah mendengarkanlah kita dimana-mana negeri suaranya
mendengung sebagai guntur, tatkala ia dalam tahun 1847 berseru: “E, Kaum
Proletar semua negeri, kumpullah menjadi satu.” Dan sesungguhnya!
Riwayat dunia belum pernah menemui ilmu dari satu manusia, yang begitu
cepat masuknya dalam keyakinannya satu golongan di dalam pergaulan
hidup, sebagai ilmunya kampiun kaum buruh ini. Dari puluhan menjadi
ratusan, dari ratusan menjadi ribuan dari ribuan menjadi laksaan,
ketian, jutaan… begitulah jumlah pengikutnya bertambah-tambah. Sebab,
walaupun teori-teorinya sangat sukar dan berat bagi kaum pandai, maka
“amat gampanglah teorinya itu dimengerti oleh kaum yang tertindas dan
sengsara, yakni kaum melarat kepandaian yang berkeluh kesah itu”.
Berlainan dengan sosialis-sosialis lain, yang mengira bahwa cita-cita
sosialisme itu dapat tercapai dengan cara pekerjaan bersama antara
buruh dan majikan, berlainan dengan umpamanya: Ferdinand Lassalle, yang
teriaknya ada suatu teriak perdamaian, maka Karl Marx, yang dalam
tulisan-tulisannya tidak satu kali memakai kata kasih atau kata cinta,
membeberkanlah paham pertentangan klas: paham klassentrijd, paham
perlawanan zonder (tanpa, ed.) damai sampai habis-habisan. Dan bukan itu
saja! Ilmu Dialektik Materialisme, ilmu statika dan dinamikanya
kapitalisme, ilmu Verelendung, -semua itu adalah “jasanya” Marx. Dan
meskipun musuh-musuhnya, terutama kaum anarkis, sama menyangkal
jasa-jasanya Marx yang kita sebutkan diatas ini, meskipun lebih dulu, di
dalam tahun 1825, Adolphe Blanqui sudah “menjawil-jawil” ilmu Historis
Materialisme itu, meskipun teori harga lebih itu sudah lebih dulu
dilahirkan oleh ahli-ahli pikir sebagai Sismondi dan Thompson, -maka toh
tak dapat disangkal, bahwa dirinya Karl Marx lah yang lebih mendalamkan
dan lebih menjalarkan teori-teori itu, sehingga “kaum melarat
kepandaian yang berkeluh kesah itu” dengan gampang segera mengertinya.
Mereka dengan gampang mengerti, seolah-olah suatu soal yang “sudah
mustinya begitu”-, segala seluk-beluknya harga lebih: bahwa kaum borjuis
lekas menjadi kaya karena kaum proletar punya tenaga yang tak terbayar.
Mereka dengan gampang mengerti seluk-beluknya Historis Materialisme:
bahwa urusan rezekilah yang menentukan segala akal pikiran dan budi
pekertinya riwayat dan manusia. Mereka dengan gampang mengerti
seluk-beluknya dialektika: bahwa perlawanan klas adalah suatu keharusan
riwayat, dan bahwa oleh karenanya, kapitalisme adalah “menggali sendiri
liang kuburnya”.
Begitulah teori-teori yang dalam dan berat itu dengan gampang saja
masuk di dalam keyakinan kaum yang merasakan stelsel (sistem, ed.) yang
“diteorikan” itu, yakni di dalam keyakinannya kaum yang perutnya
senantiasa keroncongan. sebagai tebaran benih yang ditebarkan oleh angin
kemana-mana dan tumbuh pula dimana ia jatuh, maka benih Marxisme ini
berakar dan subur bersulur dimana-mana. Benih yang ditebar-tebarkan di
Eropa itu sebagian telah diterbangkan pula oleh taufan jaman ke arah
khatulistiwa, terus ke Timur, jatuh di kanan kirinya sungai Sindu dan
Gangga dan Yang Tse dan Hoang Ho, dan di kepulauan yang bernama
kepulauan Indonesia.
Nasionalisme di dunia Timur itu lantas “berkawinlah” dengan Marxisme
itu, menjadi satu nasionalisme baru, satu ilmu baru, satu itikad baru,
satu senjata perjuangan yang baru, satu sikap hidup yang baru.
Nasionalisme-baru inilah yang kini hidup di kalangan Rakyat Marhaen
Indonesia.
Karena ini, Marhaen pun, pada hari 14 Maret 1933 itu, wajiblah berseru:
Bahagialah yang wafat 50 tahun berselang!
Fikiran Ea’jat, 1933

.png)