Custom Search
Hot News
Tuesday, November 3, 2015

Mohamad Hatta


Oleh   

Y. Hegon Kelen Kedati


Pada zaman penjajahan Belanda, Sumatra Barat menjadi salah satu daerah maju di bidang pendidikan disamping Sulawesi Utara. Pada masa itu sudah ada banyak sekolah yang didirikan. Selain itu, Sumatra Barat menjadi tempat di luar jawa yang sarat dengan dinamika perjuangan pergerakan kemerdekaan. Tidak heran bila banyak tokoh pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia berasal dari Sumatra Barat, yang mana tidak hanya unggul dalam pergerakan dan mobilisasi massa tapi juga memiliki kecakapan intelektual yang mumpuni. Salah satu dari sekian tokoh tersebut adalah Mohamad Hatta.

Mohamad Hatta adalah seorang konstitusioner dan pemikir. Kejernihan berpikir yang rasional dalam melihat dan memahami masalah yang dihadapi dan kejujuran etis dalam usaha mengatasinya—meskipun bisa berarti merugikan dirinya sendiri—adalah ciri khas dari Bung Hatta. Selain itu, ketika belajar di negeri Belanda, Mohamad Hatta menjadi ketua organisasi kepemudaan yang pertama kali memakai nama Indonesia yaitu Indonesich Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia. Penggunaan nama “Indonesia” bagi Hatta adalah untuk membangun sebuah harapan akan sebuah tanah air di masa depan.

Corak pemikiran Hatta merefleksikan dua hal yaitu mengenai kemerdekaan Indonesia dan Demokrasi Indonesia. Bagi Hatta kemerdekaan Indonesia tidak boleh lepas dari “dasar-dasar” perikemanusiaan”. Dasar perikemanusiaan ini harulah terlaksana dalam segala segi kehidupan, dalam relasi dengan sesama, relasi buruh dan majikan, dan relasi dengan bangsa-bangsa lain. Cita-cita perikemanusiaan ini tidak hanya bersifat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme tetapi juga lepas bebasnya manusia dari segala bentuk penindasan. Lebih jauh, bagi Hatta, perikemanusiaan ini tidak lepas dari prisip Ketuhanan Yang Maha Esa karena prinsip inilah yang menuntun manusia menuju jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran, dan persaudaraan. Prinsip inilah yang menjadi landasan moral yang menjiwai dan melandasi semangat hidup berbangsa dan bernegara.

Berkaitan dengan hal di atas rupanya cita-cita Hatta ini berasal dari tiga sumber. Pertama adalah paham sosialisme barat. Hal ini karena dasar perikemanusiaan yang dibela oleh sosialisme barat. Kedua adalah ajaran Islam yang mana menuntut kebenaran dan keadilan ilahi dalam masyarakat sera persaudaraan diantara manusia sebagai mahkluk Tuhan. Ketiga adalah pengetahuann beliau sendiri mengenai masyarakat Indonesia yang majemuk yang mana berdasarkan kolektivisme.

Dalam usaha mencari sistem demorasi yang sesuai dengan Negara Indonesia, Mohamad Hatta menggali dan menemukan lima unsur dalam demokrasi yaitu rapat, mufakat, tolong-menolong atau gotong royong, hak mengadakan protes bersama, dan hak-hak menyingkirkan diri dari kekuasaan. Kelima hal ini haruslah terangkum daam satu bagian yang utuh. Berhubungan dengan konteks kemerdekaan, Hatta proses pengambilan keputusan voting juga diperlukan mengingat dinamika waktu dan jarak geografis yang jauh. Selain itu, agar cita-cita demokrasi berakar dari bawah maka Hatta menganjurkan otonomi daerah yang dimulai dari tingkat kabupaten, sedangkan propinsi hanya bersifat koordinasi saja. Hal ini seturut dikatakannya dalam pidato pengukuhannya, Lampau dan Datang.

Mohamad Hatta dan Soekarno adalah bapak proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bila Ir. Soerkarno berorientasi pada sebuah tujuan kemerdekaan Indonesia, dengan penyeruan akan revolusi, Mohamad Hatta sangat kuat memberi landasan berpikir rasional dan kritis terhadap kemerdekaan Indonesia. Hatta adalah orang yang setia dan teguh pada pendirian dan pikirannya, bahkan diapun akhirnya berpisah dengan Soekarno ketika Soekarno menerapkan demokrasi terpimpin yang tidak lagi sejalan dengan pemikiran dan cita-cita bung Hatta sendiri.
Item Reviewed: Mohamad Hatta Rating: 5 Reviewed By: Unknown