Custom Search
Hot News
Friday, November 2, 2018

Milenial dan Digitalisasi Desa


Gubernur NTT dan Petani Jagung (Sumber Foto; Kominfo Kab. Malaka, NTT)

Jakarta- Tak bisa dipungkiri, pesatnya pengguna internet di Indonesia sangatlah berharga, jika dijadikan pasar uang bagi masyarakat utama Generasi Muda. Pertanyaan mulai menggelinding dalam pikiran masyarakat terutama Generasi Milenial, bagaimana teknologi digital mempengaruhi kesejahtraan kaum muda? Dan bagaimana kaum milenial yang candu terhadap internet memanfaatkannya sebagai ladang pemenuhan tarif hidup?

Untuk itu, pertanyaan haruslah dijawab sebagai modal, Generasi Milenial. Generasi Milenial dituntut mengikuti arus zaman yang tak bisa dihindarkan lagi, persaingan dunia digital sebagai bentuk pasar didalamnya. Saya masih ingat, saat Jokowi berbicara soal milenial beberapa waktu lalu, “ Generasi melenial merupakan lanskap politik dan ekonomi nasional”, Bantul,Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (22/7/2017).



Tentu, ini menjadi pil penyemangat bagi anak muda untuk berinovasi, dan lebih kreatif menjadikan teknologi digital sebagai lahan bisnis, penunjang ekonomi. Menurut survei yang dilakukan oleh Hootsuite and We Are Social menempatkan Indonesia sebagai ladang bisnis digital yang diperhitungkan, mengingat Indonesia menempatkan populasi Indonesia keempat dunia (265,4 juta) dan pertama di ASEAN. 
 
Dan Pengguna internet hasil riset Hootsuite and We Are social, Indonesia adalah 132,7 juta orang (50%). Artinya, setengah orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote menggunakan internet. Dan itu pun,  masih didominasi masyarakat perkotaan. Pengguna media sosial seperti facebook, twitter, instagram,youtube, dll, berjumlah 130 juta orang (49%) dari populasi penduduk Indonesia dan 177,9 juta orang menggunakan mobile users, seperti Smartphone, Android dan sejenisnya. (Lihat: Hootsuite and We Are Social, https://wearesocial.com/blog/2011/12/social-digital-mobile-indonesia ). 

Dengan mencermati survei dan fenomena internet sebagai media dengan tingkat penetrasi yang cukup tinggi menjadi pijakan bagi masyarakat utama Generasi Milenial semakin gemar mengakses berbagai konten melalui media digital.

Salah satu survey Nielsen Cross-Platform 2017, mengklasifikasikan beberapa tempat di antaranya menjadi minat masyarakat adalah Kendaraan Umum (53%), Kafe atau Restoran (51%), bahkan di acara konser (24%) begitu pula, peningkatan dalam jumlah akses media digital dibandingkan tahun 2015.

Peran Pemerintah

Untuk menentukan investasi, tentu anak milenial dituntut untuk berinovasi dengan segala bentuk cara inovasi dan kreatif mendongkrak digitalisasi yang modern dan tepat sasar. Dan pemerintah dalam hal ini, dituntut  memfasilitasi kemampuan anak muda untuk melakukan inovasi-inovasi dari segala bidang.

Slogan Indonesia sejahtera akan bisa diwujudkan apabila Generasi Milenial berpikir cerdas dan lihai memanfaat peluang yang ada dan pemerintah membuka akses investasi kepada kaum milenial untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

Menganalisis survei yang dilakukan Hootsiute and We Are Social di atas, menggugat Generasi Milenial menghirup udara segar, bawasannya masih 50 % masyarakat Indonesia belum menyentuh internet bahkan, melakukan transaksi ekonomi melalui internet. Itu berarti, masyarakat perkotaan menjadi dominan dalam penggunaan internet.

Pemerintah, betul-betul memperhatikan bagaimana membuka akses digitaliasi internet ini, menyentuh masyarakat desa yang nota bene jauh dari cengkrama alat telekomunikasi. Berbicara telekomunikasi, tentunya kita akan berbicara listrik. Listrik salah satu mesin penggerak perkonomian masyarakat desa, mengolah hasil pertaniaan, perkebunan, perikanan.

Untuk itu, Pemerintah dituntut untuk melakukan revolusioner besar-besaran bagi perkembangan perekonomian masyarakat desa dengan mewujudkan listrik bagi masyarakat desa dan menunjang adanya akses telekomunikasi, maupun internet. Dengan sendirinya, masyarakat desa, banyak mendapat pelajaran baik di internet salah satunya, berinventasi lewat hasil pertanian, perkebunan, maupun perikanan.

Peran Generasi Muda

Peran kaum milenial sangatlah strategis, apabila pemerintah bisa menuntaskan ini sampai pelosok desa dengan listrik dan akses komunikasi . Sehingga, anak muda bisa melakukan terobosan kreatif membuat Startup company yang berbasis ramah lingkungan dan menyentuh langsung sendi kehidupan masyarakat desa untuk menunjang perekonimian mereka.

Startup adalah sebuah perusahaan rintisan yang bisa dibilang harus memiliki gebrakan yang kreatif dan tepat guna bagi perekonimaan masyarakat setempat sesuai dengan keadaan geografisnya. Untuk itu, dibutuhkan kerja keras, dan kerja kraetif untuk bisa membuat startup company yang didirikan bisa berhasil.

Sebagai seorang yang terlahir di daerah pedesaan, tentu saja saya menginginkan Generasi Milenial dan pemerintah mewujudkan ini dengan pemandangan sehari-hari adalah hamparan sawah.Para petani yang tiap hari ke sawah, hamparan perkebunan  kopi, bawang, sayur-sayuran dan hamparan laut kita yang begitu luas dengan hasil kelautan, utama perikanan dan budidaya laut lainnya. Oleh karena itu, hal yang terpikirkan oleh saya adalah digital startup company di bidang kelautan, dan pertanian kita. 

Generasi Milenial mampu berinovasi untuk membuat suatu alat yang bisa mempermudah aktivitas para nelayan dan petani, seperti drone yang dapat digunakan untuk memupuk atau pun melakukan pemberantasan hama di sawah.

Selain itu, drone tersebut dapat pula melakukan pengawasan terhadap kondisi sawah secara real-time dan dapat ditampilkan di layar smartphone. Dan juga kelautan kita melakukan terobosan kelautan yang ramah lingkungan, dengan membuat drone seperti, cangkang dalam pemeliharaan udang, kepiting dan ikan secara tradisional, sehingga asas manfaat kelautan kita terjaga dan nelayan dapat menunjang perekonomiaan mereka dengan hasil laut kita.

Selain itu, startup company yang  dirikan dapat menampilkan perubahan harga hasil-hasil pertanian dan perikanan kita dari berbagai daerah. Sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para petani dan nelayan untuk menjual hasil pertaniaan dan tangkapan mereka dengan harga yang paling memuaskan.

Semoga suatu saat rencana startup company pertaniaan dan perikanan dapat terealisasi sehingga, dapat membantu para petani di Indonesia untuk bisa mendapatkan keuntungan bagi roda perekonomiaan masyarakat desa kita.

Dan Generasi Milenial dituntut untuk, melakukan digital startup company yang akan bergerak di bidang pendidikan untuk daerah-daerah yang masih sangat membutuhkan pendidikan. Seperti  membuat video pembelajaran, video pembahasan soal-soal, dan lain-lain.

Karena kita tahu, pendidikan itu sangat penting. Efek langsung dari sebuah pendidikan adalah memberi pengetahuan bagi anak- anak di desa yang jauh dari digitalisasi dan juga edukasi kepada masyarakat desa untuk melakukan investasi di bidang pertaniaan dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, label yang selama ini menjadikan kota sebagai lahan ekonomi, akan berubah menuju desa. Dan generasi milenial akan merubah lanskap ekonomi nasional yang ada dan mewujudkan desa yang sejahtera.

Oleh: Damianus Febrianto Edo
Studi: Komunikasi, IISIP Jakarta, Generasi Milenial, aktif menulis literasi media
Asal: Flores, Nusa Tenggara Timur 
Alamat Email: Damianusfebrianto760@gmail.com 

Catatan: Tulisan ini, sudah diterbitkan di Harian Umum Timor Express, Sabtu (6/10/2018)

Harian Umum Timor Express

Item Reviewed: Milenial dan Digitalisasi Desa Rating: 5 Reviewed By: FEBRI EDO