![]() |
| Gubernur NTT dan Petani Jagung (Sumber Foto; Kominfo Kab. Malaka, NTT) |
Jakarta- Tak bisa dipungkiri,
pesatnya pengguna internet di Indonesia sangatlah berharga, jika dijadikan
pasar uang bagi masyarakat utama Generasi Muda. Pertanyaan mulai menggelinding
dalam pikiran masyarakat terutama Generasi Milenial, bagaimana teknologi
digital mempengaruhi kesejahtraan kaum muda? Dan bagaimana kaum milenial yang candu
terhadap internet memanfaatkannya sebagai ladang pemenuhan tarif hidup?
Untuk itu, pertanyaan haruslah dijawab sebagai
modal, Generasi Milenial. Generasi Milenial dituntut mengikuti arus zaman yang
tak bisa dihindarkan lagi, persaingan dunia digital sebagai bentuk pasar
didalamnya. Saya masih ingat, saat Jokowi berbicara soal milenial beberapa
waktu lalu, “ Generasi melenial merupakan lanskap
politik dan ekonomi nasional”, Bantul,Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (22/7/2017).
Tentu, ini menjadi pil penyemangat bagi
anak muda untuk berinovasi, dan lebih kreatif menjadikan teknologi digital
sebagai lahan bisnis, penunjang ekonomi. Menurut survei yang dilakukan oleh Hootsuite and We Are Social menempatkan
Indonesia sebagai ladang bisnis digital yang diperhitungkan, mengingat
Indonesia menempatkan populasi Indonesia keempat dunia (265,4 juta) dan pertama
di ASEAN.
Dan Pengguna internet hasil riset Hootsuite and We Are social, Indonesia
adalah 132,7 juta orang (50%). Artinya, setengah orang Indonesia dari Sabang
sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote menggunakan internet. Dan itu pun,
masih didominasi masyarakat perkotaan. Pengguna
media sosial seperti facebook, twitter, instagram,youtube, dll, berjumlah 130 juta orang (49%) dari
populasi penduduk Indonesia dan 177,9 juta orang menggunakan mobile users, seperti Smartphone,
Android dan sejenisnya. (Lihat: Hootsuite
and We Are Social, https://wearesocial.com/blog/2011/12/social-digital-mobile-indonesia
).
Dengan mencermati survei dan fenomena
internet sebagai media dengan tingkat penetrasi yang cukup tinggi menjadi pijakan
bagi masyarakat utama Generasi Milenial semakin gemar mengakses berbagai
konten melalui media digital.
Salah satu survey Nielsen
Cross-Platform 2017, mengklasifikasikan beberapa tempat
di antaranya menjadi minat masyarakat adalah Kendaraan Umum (53%),
Kafe atau Restoran (51%), bahkan di acara konser (24%) begitu pula,
peningkatan dalam jumlah akses media digital dibandingkan tahun 2015.
Untuk menentukan
investasi, tentu anak milenial dituntut untuk berinovasi dengan segala bentuk
cara inovasi dan kreatif mendongkrak digitalisasi yang modern dan tepat sasar. Dan
pemerintah dalam hal ini, dituntut memfasilitasi
kemampuan anak muda untuk melakukan inovasi-inovasi dari segala bidang.
Slogan Indonesia sejahtera
akan bisa diwujudkan apabila Generasi Milenial berpikir cerdas dan lihai
memanfaat peluang yang ada dan pemerintah membuka akses investasi kepada kaum
milenial untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.
Menganalisis survei
yang dilakukan Hootsiute and We Are
Social di atas, menggugat Generasi Milenial menghirup udara segar,
bawasannya masih 50 % masyarakat Indonesia belum menyentuh internet bahkan,
melakukan transaksi ekonomi melalui internet. Itu berarti, masyarakat perkotaan
menjadi dominan dalam penggunaan internet.
Pemerintah, betul-betul
memperhatikan bagaimana membuka akses digitaliasi internet ini, menyentuh
masyarakat desa yang nota bene jauh dari cengkrama alat telekomunikasi.
Berbicara telekomunikasi, tentunya kita akan berbicara listrik. Listrik salah
satu mesin penggerak perkonomian masyarakat desa, mengolah hasil pertaniaan,
perkebunan, perikanan.
Untuk itu, Pemerintah
dituntut untuk melakukan revolusioner besar-besaran bagi perkembangan perekonomian
masyarakat desa dengan mewujudkan listrik bagi masyarakat desa dan menunjang
adanya akses telekomunikasi, maupun internet. Dengan sendirinya, masyarakat
desa, banyak mendapat pelajaran baik di internet salah satunya, berinventasi
lewat hasil pertanian, perkebunan, maupun perikanan.
Peran
Generasi Muda
Peran kaum milenial sangatlah strategis, apabila
pemerintah bisa menuntaskan ini sampai pelosok desa dengan listrik dan akses
komunikasi . Sehingga, anak muda bisa melakukan terobosan kreatif membuat Startup
company yang berbasis ramah lingkungan dan
menyentuh langsung sendi kehidupan masyarakat desa untuk menunjang perekonimian
mereka.
Startup adalah sebuah
perusahaan rintisan yang bisa dibilang harus memiliki gebrakan
yang kreatif dan tepat guna bagi perekonimaan masyarakat setempat sesuai dengan
keadaan geografisnya. Untuk itu, dibutuhkan kerja keras,
dan kerja kraetif untuk bisa membuat startup company yang
didirikan bisa berhasil.
Sebagai
seorang yang terlahir di daerah pedesaan, tentu saja
saya menginginkan Generasi Milenial dan pemerintah mewujudkan ini dengan pemandangan sehari-hari adalah
hamparan sawah.Para petani yang tiap hari ke sawah,
hamparan perkebunan kopi, bawang,
sayur-sayuran dan hamparan laut kita yang begitu luas dengan hasil kelautan,
utama perikanan dan budidaya laut lainnya. Oleh karena itu, hal yang terpikirkan oleh saya adalah digital
startup company di bidang kelautan, dan pertanian kita.
Generasi Milenial mampu berinovasi untuk membuat suatu alat yang bisa
mempermudah aktivitas para nelayan dan petani, seperti drone yang
dapat digunakan untuk memupuk atau pun melakukan pemberantasan hama di sawah.
Selain
itu, drone tersebut dapat pula melakukan pengawasan terhadap kondisi
sawah secara real-time dan dapat ditampilkan di layar smartphone.
Dan juga kelautan kita melakukan terobosan kelautan yang ramah lingkungan,
dengan membuat drone seperti,
cangkang dalam pemeliharaan udang, kepiting dan ikan secara tradisional,
sehingga asas manfaat kelautan kita terjaga dan nelayan dapat menunjang
perekonomiaan mereka dengan hasil laut kita.
Selain
itu, startup company yang dirikan
dapat menampilkan perubahan harga hasil-hasil pertanian
dan perikanan kita
dari berbagai daerah. Sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para petani
dan nelayan untuk
menjual hasil pertaniaan dan tangkapan mereka dengan harga yang paling
memuaskan.
Semoga
suatu saat rencana startup
company pertaniaan dan perikanan dapat terealisasi sehingga, dapat membantu para petani di
Indonesia untuk bisa mendapatkan keuntungan bagi roda perekonomiaan
masyarakat desa kita.
Dan Generasi Milenial dituntut untuk, melakukan digital
startup company yang akan bergerak di bidang pendidikan untuk
daerah-daerah yang masih sangat membutuhkan pendidikan. Seperti membuat video pembelajaran, video pembahasan
soal-soal, dan lain-lain.
Karena kita tahu, pendidikan itu sangat penting.
Efek langsung dari sebuah pendidikan adalah memberi pengetahuan bagi anak- anak
di desa yang jauh dari digitalisasi dan juga edukasi kepada masyarakat desa
untuk melakukan investasi di bidang pertaniaan dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, label yang
selama ini menjadikan kota sebagai lahan ekonomi, akan berubah menuju desa. Dan
generasi milenial akan merubah lanskap ekonomi nasional yang ada dan mewujudkan
desa yang sejahtera.
Oleh: Damianus Febrianto Edo
Studi: Komunikasi, IISIP Jakarta, Generasi Milenial, aktif menulis literasi media
Asal: Flores, Nusa Tenggara Timur
Alamat Email: Damianusfebrianto760@gmail.com
Catatan: Tulisan ini, sudah diterbitkan di Harian Umum Timor Express, Sabtu (6/10/2018)
![]() |
| Harian Umum Timor Express |


.png)