Jakarta-Dinamika politik jelang Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) DKI, Jakarta 2017 mendatang kian hangat.
"Gubernur DKI Jakarta, Basukita T. Purnama yang telah mendapat dukungan kuat masyarakat melalui jalur perseorangan/independen justru saat ini dalam posisi dilematis menghadapi semakin ketatnya sistem verifikasi administrasi dan faktual dukungan perseorangan ini", ucap Ramses
Menanggapi situasi politik ini, Pengamat Politik dari Universitas Mercu Buana Jakarta, Maksimus Ramses Lalongkoe kepada wartawan di Jakarta, Senin (13/6), mengatakan, dalam kondisi sistem seperti ini membuat para calon kepala daerah yang maju lewat dukungan rakyat langsung mengalami situasi dilematis. Semakin ketatnya model verifikasi KTP baik saat pemeriksaan administrasi maupun saat verifikasi faktual membuat calon cukup dilematis.
"Saya mencermati, para calon yang maju lewat independen cukup dilematis antara tetap maju lewat independen atau malah memilih dukungan Partai Politik ditengah sistem verifikasi KTP dukungan yang semakin ketat", kata Ramses.
Kasus dilematis ini,lanjut Ramses, nampak terlihat dalam psikologis calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama atau akrab disapa Ahok. Menurut Ramses, saat ini Ahok diperhadapkan dengan kelompok Teman Ahok dan relawan yang sudah berjuang keras mengumpulkan KTP demi Ahok. "Jika Ahok dilematis iya bisa saja Ahok akan berhadapan dengan Teman Ahok dan para relewan yang sudah lama rela berjuang mengumpulkan KTP demi Ahok".
Lebih lanjut penulis buku Ahok Sang Pemimpin "Bajingan" ini mengatakan, dalam politik memang selalu ada ruang dinamika dan dinamika itu diperlukan sepanjang memiliki tujuan .positif.
Namun menurut menurut Ramses, Ahok tetap memilih jalur Independen sebagai bentuk perwujudan kekonsistenan Ahok dalam mengambil keputusan apalagi dukungan KTP untuk Ahok saat ini hampir mencapai satu juta, pungkas Ramses.
Seperti publik ketahui saat ini, sejumlah Partai Politik sedang melakukan manuver mendukung Ahok.(FEBRI EDO)
"Gubernur DKI Jakarta, Basukita T. Purnama yang telah mendapat dukungan kuat masyarakat melalui jalur perseorangan/independen justru saat ini dalam posisi dilematis menghadapi semakin ketatnya sistem verifikasi administrasi dan faktual dukungan perseorangan ini", ucap Ramses
Menanggapi situasi politik ini, Pengamat Politik dari Universitas Mercu Buana Jakarta, Maksimus Ramses Lalongkoe kepada wartawan di Jakarta, Senin (13/6), mengatakan, dalam kondisi sistem seperti ini membuat para calon kepala daerah yang maju lewat dukungan rakyat langsung mengalami situasi dilematis. Semakin ketatnya model verifikasi KTP baik saat pemeriksaan administrasi maupun saat verifikasi faktual membuat calon cukup dilematis.
"Saya mencermati, para calon yang maju lewat independen cukup dilematis antara tetap maju lewat independen atau malah memilih dukungan Partai Politik ditengah sistem verifikasi KTP dukungan yang semakin ketat", kata Ramses.
Kasus dilematis ini,lanjut Ramses, nampak terlihat dalam psikologis calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama atau akrab disapa Ahok. Menurut Ramses, saat ini Ahok diperhadapkan dengan kelompok Teman Ahok dan relawan yang sudah berjuang keras mengumpulkan KTP demi Ahok. "Jika Ahok dilematis iya bisa saja Ahok akan berhadapan dengan Teman Ahok dan para relewan yang sudah lama rela berjuang mengumpulkan KTP demi Ahok".
Lebih lanjut penulis buku Ahok Sang Pemimpin "Bajingan" ini mengatakan, dalam politik memang selalu ada ruang dinamika dan dinamika itu diperlukan sepanjang memiliki tujuan .positif.
Namun menurut menurut Ramses, Ahok tetap memilih jalur Independen sebagai bentuk perwujudan kekonsistenan Ahok dalam mengambil keputusan apalagi dukungan KTP untuk Ahok saat ini hampir mencapai satu juta, pungkas Ramses.
Seperti publik ketahui saat ini, sejumlah Partai Politik sedang melakukan manuver mendukung Ahok.(FEBRI EDO)

.png)