Custom Search
Hot News
Tuesday, December 22, 2015

Celana Umpan

Oleh Wihelmus Matrona,Mahasiswa Hubungan Internasional,Jakarta
Bila waktunya telah usai Teus akan membukanya dan hanya mau berbisik kepada Katarina“Celana Umpan telah menjadi saksi bisu selama lima Tahun yang usai!”
Katarina pelan-pelan menyorongkan tangannya ke dalam becer (lumbung padi). Ia mengambil kantong itu. Teus membuka ikatan di matanya. Mata katarina memblalak melihat benda yang berwarna pink dan disebut-sebut kado spesial oleh Teus.
“Nana, Jurak tuung ite! “(Ungkapan untuk sesuatu yang melampaui keterlaluan)
“Inikan yang enu mau!”
“Tidak Teus, Kau sedang mbecik saya, saya tidak terima! Tidak ada yang spesial disini! Kau punya cara romantis di luar akal saya. Romantis itu harus bermoral Teus!”(Mbecik;menghina)
“Tapi ini kan yang enu minta!”
“Eh..Nana untung saya sayang kau, kalau tidak Piring ini (berisi Geluk; cemilan yang diramu dari buah nangka) sudah melayang ke muka kamu! Bila perlu saya kasi putus”
“Aduh momang, nana tidak bermaksud begini!”
“Nana Stop panggil saya momang, untuk sementara saya panggil kamu Teus saja dulu, tidak ada momang-momang. Mulai sekarang hingga sebulan ini, saya skors untuk dipanggil Momang, titik.”
“Momang!”
“Stop!”
“Momang, eh Enu! Enukan senang dengan yang ini kemarin!”
“Tapi itu kan kemarin Teus, hari ini lain. Pikiran saya berubah! Kau pergi ke Ruteng cuman beli kado Murahan ini. Berapa kilo kemiri yang kau jual untuk kadu murahan ini?”
“Tapi harganya Tiga ratus ribu enu. Mahal! beli di Swalayan Pagi Lagi. Ini bisa bertahan Lima Tahun, pas PILKADA lagi nanti bisa beli yang baru, biar hemat. Lagian, barang ini bisa menjadi saksi bergulirnya kekuasaan di daerah kita. ”
“Ini bukan soal nilai Harga Nana. Bukan Soal bisa bertahan selama lima tahun. Bukan soal satu periode kekuasaan. Ini bukan kesaksian sebah rezim, Ini nilai harga diri. Memang harga diri saya ada di swalayan pagi apa? Memang barang yang bisa bertahan lima tahun itu punya sumbangan kemanusiaan untuk saya. Apakah dengan hemat menjamin moral saya. Saya ini wanita Teus, wa-ni-ta. Masa saya pakai barang ini di kampung kita. Apa kata Kampung kita?”
“ Saya mengutip apa yang Enu bilang ini trend anak muda, siapa tau pergi ke pesta-pesta dipakai to!”
“Adu Tuhan e. Mori ampong (Tuhan ampunilah!). Teus, Teus ini CELANA UMPAN Teus (Hot Pants). Pake di depan kau mungkin pantas Teus, tapi inikan kampung kita, ada ende, ema, ase kae, semuanya saudara saya. Atau kalau saya pergi pesta, nanti saya mengumpan laki-laki lain. Kau mau gara-gara CELANA UMPAN ini saya dinaksir sama orang, terus tinggalin kamu. Kamu doaakan supaya kita putus ya”
“Tidak Momang!”
“Stop Teus!”
“Eh enu. Tapi ini kan keinginan kamu beberapa bulan yang lalu.”
“Itu kan Cuma keinginan blaka Teus. Masa saya pergi petik kopi pake CU, nanti nyamuk gigit saya lebih-lebih semut hitam. Kalau saya ke ladang nanti semba/karot (Duri) melukai paha saya. Atau saya pergi ke sawa, justru akan membuat saya gatal-gatal. Saya lebih banyak garuk-garuk seperti monyet daripada bekerja. Apalagi kalau sedang menanam padi katak-katak yang nakal bisa masuk ke dalam. Lagian daerah kita dingin nana, saya bisa mati kedinginan.” Teus ketawa kecil-kecilan mendengar ocehan Kata.
“kau jangan ketawa lagi. Apa kamu seperti orang yang baru saja makan Tehehe nana.” (Jenis Mosrum)
“Enu Stop, nana mengaku salah. Nana memang tidak suka kamu pake CU. Sebenarnya ini saran dari Fabi!”
“Stop juga Teus! Jangan bawa nama-nama orang lain! Saya tidak ada waktu, saya pergi dulu. Saya mau tumbuk kopi dulu!”
Teus sendirian dia duduk termenung. Ia menggerakkan lagi pengalamannya dalam pikirannya. Baginya ini adalah bulan sialan. Gara-gara celana umpan itu. Ini soal pilihan, Enu Kata memilih Celana Umpan (Hot Pan) yang berwarna Pink, Putih, Hitam atau tidak sama sekali adalah pilihannya. Ia memilih berbudaya atau mengikuti arus modrnisasi adalah pilihannya. Enu Katarina memilih gaya yang Tua atau gaya yang mudah adalah pilihannya? Menginginkan yang lama atau yang baru? Ini soal pilihan.
“Cinta itu demokratis” Ungkap Teus dalam hati sembari meneguk secangkir kopi yang dituangkannya dari poci tanah liat di depannya.
Tapi, pikir Teus lagi, Enu Katarina berani melampaui pilihannya, ia tidak hanya berhenti pada pilihan apakah ini menzaman atau tidak tapi apakah punya sumbangan terhadap manusia yang berada? soal kemanusiaan? Moral? Tanggung jawab? Dan kebaikan bersama (bonum comune)?
“Bukan hanya soal Teusnya ini” Bisik Teus kepada dirinya sembari mengisap dan mengepulkan asap Rokok Tembakau Guling.
Enu Katarina, Teus terjatuh ke dalam pikirannya lagi, Celana Umpan itu ditolak. Memilih celana umpan tidak tepat baginya. Meskipun Enu Kata menolaknya, tapi teus mau menaru dan menyimpan celana umpan ini di bawa dasar lemari. Bila lima tahun berlalu akan dibukanya. Bagi Teus celana umpan ini tidak hanya saksi bisu cintanya kepada Katarina, tapi juga sebagai saksi bisu bergulirnya rezim lima tahun yang baru saja dimulai. Yang entah memperjuangkan kebaikan bersama atau tidak? Saksi bisu yang memperjuangkan pembangunan, kemaunisiaan dan infrastruktur atau bukan? Tentang pertanian, pendidikkan, kebudayaan dan banyak lagi yang adalah PR yang mendesak dikerjakan atau tidak?
Bila waktunya telah usai Teus akan membukanya dan hanya mau berbisik kepada Katarina “Celana Umpan telah menjadi saksi bisu lima Tahun!”.
Bila lima tahun telah usai ……..
Item Reviewed: Celana Umpan Rating: 5 Reviewed By: FEBRI EDO