Penulis: Rofin Sela
Jika Anda
menengok di sepanjang jalan dari Ende-Bajawa, tepatnya di sepanjang
pantai Sarakaka, Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur
(NTT), Anda akan melihat tumpukan batu alam. Batu-batu itu sengaja
dikumpulkan. Ada penadah tetap yang menghargai para pengumpul batu itu
menjadi duit, sementara sesekali ada pendatang yang langsung datang
untuk membeli.
“Pidi
Watu”, begitulah dalam bahasa daerah sebagian besar masyarakat Nangaroro
menyebut pekerjaan tersebut, yakni mengumpulkan batu di sepanjang
pantai berpasir hitam dan dibatasi bebatuan membentang ke arah timur
sepanjang pantai Sarakaka, Nangaroro, kabupaten Nagekeo hingga pesisir
pantai kabupaten Ende dan seterusnya.
Selain
nelayan, ada beberapa orang yang memang berkerja sebagai pengumpul batu.
Ada juga yang datang dari penggarap kebun demi mencari alternatif
penghasilan lain. Mereka biasanya menyisir dari pantai Sarakaka, Aeawe,
Nangamboa di Kabupaten Nagekeo hingga pesisir pantai Ndao di Kabupaten
Ende.
Batu-batu
alam yang dikumpulkan ialah batu berwarna hijau, putih, dan hitam dengan
berbagai ukuran. Batu hijau menjadi buruan utama karena harganya lebih
tinggi dan yang paling laris. Batu-batu itu kebanyakan menjadi bahan
pembuatan aksesoris, penghias taman perumahan, pemanis di kuburan dan
pemanis dinding rumah.
Kala saya
berusia dua belas tahun, sewaktu liburan tamat sekolah dasar, orang tua
saya sering mengajak untuk mengumpulkan batu hijau, putih dan hitam di
sepanjang pantai Sarakaka, Aeawe, hingga Nangamboa. Selain keluarga
saya, sebagian masyarakat di kampung Aekana, Tongatei, dan Nangamboa
juga menghabiskan hari-hari di pantai Aeawe untuk mengumpulkan batu
sembari menantikan datangnya musim hujan untuk berladang. Pantai Aeawe
adalah pantai yang hampir semua pesisirnya dipenuhi batu, mulai dari
batu-batu kecil bercorak dan berwarna hingga bebatuan dengan ukuran yang
cukup besar yang diperkirakan sudah berusia tua.
Selama
masa liburan, hampir setiap hari saya dan teman-teman kecil menghabiskan
waktu bersama orangtua kami untuk mengumpulkan batu. Pukul 05.00 WITA
kami sudah menuju tempat pengumpulan batu. Berbekal makanan seadanya,
kami berjalan beramai-ramai, bergerombol sembari bercerita tentang harga
jual batu-batu tersebut. Biasanya kami langsung menuju pantai Aeawe
karena kualitas batu yang menjajikan dengan jumlah yang lebih banyak
ketimbang di pesisir pantai Sarakaka. Sembari mengumpulkan batu kami
juga memancing, melepaskan pukat atau jala untuk menjaring ikan sebagai
lauk teman makan pisang rebus, singkong, dan nasi jagung.
Mengumpulkan
batu sebenarnya bukan pekerjaan yang sulit, hanya memilih batu-batu
mulus tanpa cela dan berwarna cerah. Memang beban memindahkan atau
mengangkat batu tentu lebih berat ketimbang mengangkat pasir atau “kayu
kering” (kayu api). Batu yang telah dikumpulkan dipisahkan berdasarkan
ukuran dan jenisnya. Saat itu kami mengumpulkan batu mulai dari ukuran
terkecil (no 1) hingga ukuran paling besar (no 5). Batu yang dibutuhkan
oleh penadah adalah batu halus sedikit mengkilap tanpa pecahan atau
lubang berpori di setiap sisi batu-batu tersebut. Harga yang ditawarkan
juga berbeda-beda. Untuk batu hijau nomor satu dihargai Rp.50 per kg,
nomor dua Rp.25 per kg, nomor tiga Rp.15 per kg, nomor empat Rp.10 per
kg dan nomor lima Rp.50 per kg. Berbeda lagi untuk jenis batu putih dan
hitam yang tidak dipisahkan berdasarkan ukuran dipatok dengan harga
Rp.10 per kilogramnya.
Batu-batu
yang telah terkumpul akan ditimbang dan dibeli oleh penadah jika jumlah
yang kami kumpulkan sudah cukup banyak. Biasanya para penadah menunggu
hingga satu bulan. Setelah satu bulan lamanya, batu yang batu yang
dikumpulkan dan terpisah berdasarkan ukuran tersebut dipindahkan dari
tumpukan di bawah rindangnya pohon-pohon asam ke “pondok” yang sudah
disediakan oleh penadah. Batu yang sudah dipindahkan akan ditimbang lalu
dibeli oleh penadah dengan bayaran sesuai harga yang sudah ditentukan.
Saya harus
menyebutkan satu nama dari Penadah batu hijau ini. Om Muhamad namanya
atau yang lebih disering dipanggil Om Hema. Ia adalah seorang muslim
yang santun dan senang bercanda ria dengan kami para pencari batu. Sosok
beliau yang terbuka dan baik hati tentu membuka aura semangat kami
untuk bekerja lebih giat untuk mengumpulkan lebih banyak batu guna
menambah penghasilan. Om Hema pernah berkata bahwa situasi dan harga
akan berubah setiap saat. Ketika bisnis dan usahanya membaik maka harga
beli juga akan meningkat dan begitupula sebaliknya.
Keterbukaan
antar kami sebagai produsen dengan distributor kecil-kecilan seperti om
Hema tentu mengantarkan kami pada titik bahwa kami bisa saling percaya.
Dinamika seperti ini tentu jarang terjadi di kota-kota besar yang penuh
dengan manipulasi dan politisasi. Sebenarnya penghasilan yang didapat
harus berdasarkan tingkat kesulitan dan resiko sebuah pekerjaan yang
dilakukan. Di kota-kota besar, seperti Jakarta saat ini malah
sebaliknya. Para buruh dan pekerja kasar yang tingkat kesulitan dan
resiko kerja lebih tinggi diberikan penghasilan di bawah rata-rata, akan
tetapi kepada mereka yang kerjanya tak menyita banyak waktu dan
keringat diberikan gaji dan tunjangan yang sangat tinggi. Sungguh sangat
disayangkan jika hal ini dibiarkan. Hukum dan peraturan di negara ini
sungguh memalukan dan carut-marut.
Sekilas
pandangan saya tentang hukum dan aturan di atas tentu hanya kata-kata
dan sekedar basa-basi, sebatas pembicaraan yang timbul setiap saat
mengingat nasib orang-orang kecil yang sering diabaikan.
Kembali
lagi mengenai alam yang memberi berkah, pantai dengan batu indah yang
memberi nafkah tambahan. Pantai-pantai di daerah kami, termasuk pantai
Aeawe adalah pantai selatan yang berombak dengan arus lebih kuat bila
dibandingkan dengan pantai bagian utara. Hempasan arus dan ombak yang
cukup tinggi pada musim angin laut tentu mengubah siklus dan
mempengaruhi struktur batu ditepi pantai termasuk batu-batu yang kami
kumpulkan. Setiap bulan hamparan batu akan berubah karena ombak. “Stock”
batu yang kami butuhkan selalu tersedia kapanpun karena mengais rejeki
dari alam dengan tulus dan mencintai ciptaan Tuhan tersebut.
Yah,
tentang Pidi Watu, kami belajar tiga hal: kerja keras, saling percaya
dan menghargai usaha, dan menghormati berkah dari alam.

.png)