Sudah beberapa hari ini di Seoul dan beberapa kota lainnya di Korea
Selatan sedang dilanda demonstrasi oleh mahasiswa dan dosen-dosen yang
tidak setuju dengan adanya perubahan materi di dalam buku sejarah Korea.
Buku sejarah Korea yang tadinya memiliki beberapa versi tergantung
siapa ahli sejarah yang menulisnya, ke depannya akan "diintegrasikan"
agar memiliki konten yang sama.
Permasalahannya adalah yang akan
mengintegrasikannya bukanlah para ahli sejarah, melainkan pemerintah
sehingg memiliki kemungkinan besar akan diubah sesuai keinginan
pemerintah. Salah satunya adalah sejarah Presiden Park Chung Hee,
ayahanda dari Presiden Korea saat ini, Park Geun Hye.
Almarhumah
mantan presiden Park Chung Hee merupakan pemimpin yang otoriter dan
bertangan besi pada zamannya sehingga sangat ditakuti oleh rakyat.
Beliau akhirnya ditembak mati oleh bawahannya untuk menyudahi
kepemimpinannya. Sejarah ini ada kemungkinan diubah sehingga para
generasi yang akan datang mengenal Park Chung Hee bukan sebagai pemimpin
yang otoriter, namun pemimpin yang berjasa bagi negaranya.
Tak
hanya mengenai mantan presiden Park Chung Hee, sejarah mengenai
kekejaman pemerintahan Jepang pada saat penjajahan mungkin saja
dihapuskan karena pemerintah sekarang pro Jepang. Padahal, leluhur dan
orang tua Korea pada zaman penjajahan Jepang sangat menderita karena
dipekerjakan sebagai budak.
Lebih buruknya lagi, pada saat
banyak gejolak di Korea, salah satunya adalah ricuh mengenai buku
sejarah ini, Presiden Park Geun Hye malah sibuk mengunjungi
negara-negara asing sehingga rakyat Korea marah karena menganggap
pemimpinnya tidak memperhatikan negaranya sendiri.
[ Margareth Theresia]

.png)