Keterangan Gambar Utama: Alfred dan kedua saudarinya yang tewas di Auschwitz
Bayi mungil yang duduk di tengah-tengah pada foto di atas itu dipanggil
Bobby. Orang tuanya, Simcha dan Gisele memberi nama Alfred Münzer untuk
bayi laki-laki yang lahir pada 23 November 1941, kala Jerman telah
menaklukkan Belanda selama 19 bulan dan kekejaman Nazi menimpa banyak
orang Yahudi. Di tengah ancaman kematian, naluri seorang ibu untuk
melindungi anak-anaknya menjadi sebuah kisah cinta yang mengharukan. Di
tengah ketakutan terhadap tentara Jerman “Gestapo”, ternyata masih ada
orang baik yang berani mempertaruhkan keselamatan diri sendiri dan
bahkan keluarganya. Dibalik perubahan nama panggilan dari Alfred menjadi
Bobby inilah, terekam sebuah kisah kemanusiaan yang langka.
Sejarah
Indonesia mungkin belum pernah mencatat bagaimana satu keluarga orang
Indonesia menyelamatkan seorang bayi Yahudi dari ancaman kamp
konsentrasi Nazi dengan cara menyembunyikan bayi Yahudi itu di rumah
mereka. Para pemberani yang sungguh patut dipuji ini adalah Tolé Madna,
seorang pria Indonesia yang tinggal di Den Haag, Belanda. Adalah mantan
istri Tolé Madna, Annie yang pertama-tama dititipi tugas menyembunyikan
Alfred oleh Gisele, ibu Alfred. Namun karena mantan istri Alfred
kesulitan menyembunyikan Alfred di rumahnya, maka si kecil Alfred pun
berpindah tangan ke rumah keluarga Madna. Saat itu Papa Tolé merawat
ketiga anaknya: Willie, Dewi dan Robby. Bersama keluarga ini tinggal
seorang pengasuh anak dari Indonesia yang tidak bisa Bahasa Belanda,
Mima Saïna, seorang perempuan Jawa beragama Islam. Dari hari menjadi
bulan, bulan berganti tahun sampai tiga tahun lamanya, Alfred menjadi
bagian sebuah keluarga Indonesia di Den Haag, Belanda. Dalam
persembunyian bersama keluarga Madna, si bayi Alfred dipanggil “Bobby.”
Keterangan Foto: Keluarga Madna dan Mima Saina memangku Alfred
Dalam
wawancara tertulis dengan Alfred, ia mengaku tidak ingat persis kapan
ia mulai menyadari bahwa Papa Tolé dan Mima Saïna sudah menyelamatkan
hidupnya.“Pemahaman pertama saya tentang resiko yang dihadapi Papa
Tolé dan Mima Saïna datang ketika saya mengetahui apa yang terjadi pada
dua saudara perempuan saya, Eva dan Leah. Keduanya disembunyikan oleh
seorang perempuan Katolik yang taat namun suami perempuan itu mengadu
kepada Nazi yang mengakibatkan perempuan ini ditangkap dan dibawa ke
kamp konsentrasi, setelah perang usai si perempuan itu bebas. Namun
sungguh malang, kedua saudara perempuan saya (Alfred) dibawa ke kamp
konsentrasi di Auschwitz, Polandia dan terbunuh dalam usia 6 dan 8
tahun.”
Saat Jerman masih menguasai Belanda, praktis
Alfred tidak pernah dibawa keluar rumah keluarga Madna karena terlalu
berbahaya. Kulit putih, rambut pirang dan mata biru Alfred tentu sangat
berbeda dengan keluarga Madna. Hanya orang-orang Indonesia yang datang
ke rumah saja yang mengetahui bahwa keluarga Madna menyembunyikan
seorang bayi Yahudi. Jika Gestapo datang ke rumah, Alfred akan
disembunyikan di loteng rumah. Ketika perang berakhir, Alfred kembali
tinggal bersama ibunya yang selamat dari Holocaust dan Mima Saïna pun
turut pindah untuk merawat Alfred. Meski sudah pisah rumah, kedekatan
dengan Papa Tolé masih berlanjut. Suatu kali Papa Tolé mengajak Alfred
ke sebuah toko kebutuhan sehari-hari dan si penjual langsung mengenalnya
sebagai “Bobby.” Kali lain Papa Tolé akan mengajak Alfred pergi ke
“Warong Djava”, sebuah rumah makan orang Indonesia tempat Papa Tolé
bekerja. “Di sana, semua perempuan yang bekerja di dapur akan mendatangi saya dan membawa makanan untuk saya.”
Saat lain yang diingat Alfred adalah ketika Papa Tolé datang ke rumah
Alfred untuk merayakan kelahiran Dewa, anak dari istri keduanya.
Alfred
masih berhubungan baik dengan Papa Tolé meski Alfred dan keluarganya
berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1958. Dua bulan sebelum
kematian Papa Tolé di usia 97 tahun, Alfred masih sempat bertemu “ayah
angkatnya” itu. “Orang-orang bilang, ia menjaga kesehatannya agar dapat berjumpa kembali dengan anaknya yang di Amerika.”
Hubungan baik dengan enam anak-anak Papa Tolé (tiga dari istri pertama
dan tiga dari istri kedua) terus berlanjut meski Papa Tolé telah tiada.
Alfred yang tidak memiliki anak ini menganggap anak-anak, cucu dan cicit
keluarga Madna adalah keluarganya sendiri. Kedekatan Alfred dengan
Mima Saïna berlangsung ketika Alfred bayi sehingga praktis sangat
sedikit kenangan yang ia ingat. Sekitar bulan Oktober 1945, Mima Saïna
meninggal akibat pendarahan di kepalanya. Alfred bersama Papa Tolé
beberapa kali ziarah di makam ibu pengasuh yang telah merawat dan turut
melindungi Alfred.
Keterangan Foto:Papa Tolé
Alfred
Münzer, bocah Yahudi yang diselamatkan itu kini telah menjadi seorang
ahli penyakit dalam dan spesialis paru yang tinggal di Washington DC,
Amerika Serikat. Alfred sempat menjabat sebagai Presiden Asosiasi Ahli
Paru Amerika Serikat. Di tahun 1998, Alfred adalah aktivis antirokok
yang ngotot menghendaki zona bebas rokok di ruang publik karena efek
buruk nikotin pada perokok pasif. Motivasi Alfred menjadi dokter datang
dari pengalaman masa lalunya. Saat Gisele mengandung Alfred, dokter
kandungan menyarankan agar Gisele melakukan aborsi namun sang ibu
menolak karena mengingat kisah Hana di Alkitab. Hana adalah seorang
perempuan mandul yang berdoa meminta anak dan berjanji menyerahkan
anaknya untuk TUHAN. Doa yang sama pun diucapkan oleh ibu Alfred, “Jika
TUHAN memberikan seorang anak, saya akan menyerahkan anak itu untuk
melayani TUHAN seumur hidupnya.” Alfred menyebutkan, “Inilah yang
memotivasi saya untuk menjadi dokter dan membagikan kisah hidup saya
dengan harapan menolong dunia menjadi lebih baik.”
Di
tengah kesibukannya sebagai dokter, Alfred menjadi sukarelawan di Museum
Holocaust di Washington DC dan berbicara kepada banyak orang tentang
pengalaman hidupnya. Bahkan dia-lah yang mengusulkan agar situs Museum
Holocaust di Washington DC, Amerika Serikat mempunyai laman khusus
berbahasa Indonesia. Ketika saya menanyakan, apa hikmah yang bisa
diambil dari kisah hidupnya, Alfred menjawab, “Even in a sea of
evil, it is possible for people to stand up and do what is right” atau
jika diterjemahkan menjadi ”meski di tengah lautan kejahatan, adalah
mungkin untuk orang-orang berdiri dan melakukan apa yang benar.” Alfred
menyadari ia bisa hidup berkat kebaikan dan keberanian orang lain untuk
mengambil resiko menyembunyikan dirinya. Alfred mengatakan, “Papa
Tolé tidak merasa dirinya pahlawan. Itulah sebabnya ia tidak pernah
membicarakan dengan Alfred resiko atas perbuatannya. Ia merasa
(menyembunyikan Alfred) sangat normal untuk dilakukan.” Penghargaan
untuk keberanian Papa Tolé baru diberikan pada tahun 2000 yaitu dengan
memahat namanya di tembok yang berisi daftar nama “Righteous Among the
Nations” atau “Orang-orang Benar di Antara Bangsa-bangsa” yang
dianugerahkan oleh Yad Vashem, Museum Mengenang Holocaust di Yerusalem,
Israel.
Menyadari peran orang Indonesia yang telah
menyelamatkannya, Alfred berupaya menjalin hubungan dengan orang-orang
Indonesia. Impian Alfred tercapai saat Alfred diundang oleh Kedutaan
Besar Indonesia di Amerika Serikat untuk menceritakan kisah hidupnya di
depan sejumlah mahasiswa asal Indonesia. Alfred juga pernah berbicara di
depan anak-anak muda Indonesia dalam sebuah program toleransi agama
yang diadakan oleh Racelle Weiman, Phd dari Dialogue Institute, Temple
University, USA. Saat itu anak-anak muda dari Indonesia ini tidak tahu
tentang kisah hidup Alfred. Ketika Alfred menunjukkan fotonya digendong
oleh seorang perempuan Indonesia, mereka yang melihat foto itu heran.
Keheranan mereka berubah menjadi keharuan saat Alfred menceritakan
tentang lagu “Nina Bobo” yang kerap dinyanyikan Mima Saïna untuk
“Bobby.” Alfred mengaku menitikkan air mata ketika anak muda Indonesia
itu beramai-ramai menyanyi dan mendatangi dirinya serta memberikan
pelukan hangat. Bahkan seorang perempuan muda berkerudung membisikkan
“kita semua adalah keluarga” di telinga Alfred. “Pengalaman itu
mengajarkan kepada kami kekuatan sebuah kesaksian hidup yang dapat
menyatukan orang-orang dari latar belakang dan agama yang berbeda.”
Tak heran, Alfred bersemangat ketika datang ke Indonesia bulan April
2014 silam dan kembali bercerita di depan anak-anak muda Indonesia.
Alfred berharap melalui kisah hidupnya, generasi muda di Indonesia
dapat mengambil pelajaran dari Holocaust. Ia berharap kelak sejarah
Holocaust bisa dimasukkan dalam kurikulum di Indonesia. “Sejarah
kelam Holocaust adalah sejarah universal. Holocaust bukan saja tentang
penyiksaan dan pembunuhan orang Yahudi selama Nazi berkuasa, tetapi juga
berisi pelajaran agar manusia tidak membedakan-bedakan manusia lain.” Atas dasar itulah, Alfred memegang teguh ungkapan favoritnya, “Kita semua adalah anggota dari satu keluarga umat manusia dan kita semua bertanggung jawab satu sama lain.”
Kini Racelle Weiman sedang menyiapkan sebuah dokumenter yang diangkat
dari kisah hidup Alfred Münzer. Kelak film dokumenter ini akan diboyong
ke Indonesia untuk disaksikan oleh generasi muda di Indonesia. Sedangkan
Alfred Münzer ingin menulis buku cerita anak-anak dalam Bahasa
Indonesia.
Sepekan lalu, Dokter Al (saya menyapanya demikian)
mengabarkan ia diundang untuk makan malam dengan Presiden Jokowi saat
Jokowi ke Washington DC. Ia berkata, "Saya akan menunjukkan foto
Papa Tolé dan Mima Saina kepada Jokowi." Beberapa hari
kemudian, sebuah foto muncul di email saya. Dokter Al berhasil
bersalaman dengan Jokowi dan menceritakan sedikit kepahlawanan keluarga
Indonesia itu, meski ada begitu banyak orang yang berebut bersalaman
dengan Jokowi. Semoga di Indonesia sekarang, masih banyak orang-orang
seperti Papa Tolé dan Mima Saina yang mengutamakan kemanusiaan
jauh melebihi diri, keluarga dan kehidupan mereka sendiri. Buat keluarga
besar Papa Tolé Madna dan Mima Saina, saya ucapkan terima kasih. Luar biasa keberanian kakek Anda.[]




.png)